China Sebenarnya Doyan Banget Porang RI, tapi...

Faiq Azmi - detikFinance
Kamis, 10 Jun 2021 20:15 WIB
Fenomena petani beralih menanam porang menjadi sorotan Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (Dipertahankan) Ponorogo. Dinas melihat potensi penjualan bibit porang atau katak yang bisa meningkatkan perekonomian petani.
Foto: Charolin Pebrianti/detikcom: Lahan Porang di Ponorogo
Surabaya -

Porang Indonesia diincar China. Menurut Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga asosiasi tanaman porang sempat menemui Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi. Mereka menyampaikan aspirasi terkait peningkatan ekspor Porang.

Salah satu target negara yang menerima porang dari Indonesia adalah China.

"Kalau tidak salah hampir 70 persen, Tiongkok mengambil porang kita. Saya pikir ini bentuk keberpihakan kita mencari produk-produk yang potensial untuk ekspor," kata Jerry usai pertemuan dengan Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, Kamis (10/6/2021)

Hanya saja, lanjut Jerry, ada hal teknis yang perlu diselaraskan antara Pemerintah China dan Indonesia dalam hal ini Kemendag. Yakni memastikan Harmonized Commodity Description and Coding System (HS Code) agar tepat sasaran.

"Tujuannya merekam berapa banyak produk yang diekspor, lalu sertifikasi yang dilakukan oleh custom dan saat ini sedang on progres. Ketika itu semua sudah rampung, saya yakin Porang semakin banyak diminati di pasar global," tandasnya.

Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menyampaikan, Pemprov memberi atensi khusus terhadap komoditas tanaman porang. Dirinya telah menyampaikan kepada Presiden Joko Widodo bahwa Porang di Jatim memiliki peluang ekspor yang besar.

"Bu Gubernur Jatim juga sudah memberi atensi khusus untuk komoditi Porang. Porang menguntungkan petani kecil. Jadi, mudah-mudahan ada sistem tata niaga yang menguntungkan petani kecil. Jangan sampai terjadi korporitasi berlebihan terhadap pertanian Porang," ujar Emil di Surabaya, Kamis (10/6/2021).

Emil menyampaikan, bahwa komoditas porang di Jatim dapat dioptimalkan. Namun, masih ada kendala terkait qualify assurance (jaminan mutu).

"Makanya kita ingin memaksimalkan SRG (Sistem Resi Gudang). Karena tidak bisa SRG diterbitkan jika qualify assurance tidak memiliki standarisasi," jelasnya.

Emil menyebut, ada beberapa sentuhan teknologi seperti penyinaran tertentu yang diperlukan untuk mengekspor holtikultura ke Jepang khususnya porang. "Kalau sudah bisa menerapkan standarisasi mutu, insyaallah komoditas-komoditas lain bisa mengikutinya ke arah ekspor, termasuk ekspor porang," tambahnya.

Saat ini, pihaknya tengah mengidentifikasi pasar ekspor untuk komoditas porang untuk menjadikan komoditas unggulan di Jatim. "Kita bisa bersinergi mengidentifikasi pasar yang sudah didobrak dan Jatim harus peka memanfaatkan peluang tersebut," imbuhnya.

(hns/hns)