Mengkaji Dampak Penyesuaian Insentif GoSend

Tim detikcom - detikFinance
Jumat, 11 Jun 2021 13:51 WIB
gosend
Foto: Gojek
Jakarta -

Ramainya pemberitaan soal penyesuaian skema insentif bagi mitra GoSend turut mengundang perhatian banyak pihak. Direktur Center for Policy and Public Management Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) ITB Yudo Anggoro mengatakan penyesuaian insentif seperti yang dilakukan Gosend sebenarnya hal biasa di dunia bisnis.

"Setiap kebijakan atau strategi perusahaan punya tujuan positif. Seperti halnya insentif di Gosend itu tentunya juga untuk meningkatkan kesejahteraan serta pemerataan pendapatan mitra," kata Yudo, Kamis malam (10/6).

Menurut Yudo kebijakan insentif baru yang diterapkan GoSend harus dilihat sebagai upaya untuk mendorong produktivitas mitra driver sehingga penghasilnnya bertambah. Apalagi pasar logistik di Indonesia, sejak berkembangnya ekonomi digital, menjadi semakin besar. "Dan yang perlu diingat, ini hanya insentif yang berubah, bukan tarif dasarnya," ujarnya

Selain itu, lanjut Yudo, langkah yang diambil perusahaan tentunya sejalan dengan berbagai rencana bisnis yang disiapkan, di mana perusahaan perlu mengambil langkah untuk menjaga kesinambungan bisnisnya. Namun jika ditilik dari perspektif yang lebih luas, dia menilai Gojek telah membuka dan berupaya memperkuat ekosistem digital ini dengan mempertimbangkan langkah-langkah yang dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi konsumen, mitra pengemudi dan perusahaan itu sendiri.

"Melalui produk yang dikembangkan oleh anak bangsa ini, kita melihat manfaat lain dalam hal peningkatan lapangan kerja di sektor yang padat karya ini," imbuhnya.

Yudo juga menjelaskan bahwa berdasarkan hasil riset yang pernah dilakukannya, GoSend saat ini masih merupakan yang terbesar dalam pasar antaran barang. Oleh karenanya, terkait penyesuaian insentif ini, dia berharap dapat dijembatani melalui komunikasi yang baik antara perusahaan dan mitranya sehingga dapat diperoleh solusi yang tepat mengingat hubungan yang dibangun selama ini adalah berdasarkan kemitraan.

Sebelumnya, Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira juga memberikan komentarnya bahwa perubahan skema yang diajukan pihak aplikator membuktikan bahwa era bakar uang yang identik dengan para startup sudah mulai berkurang, di mana aplikator mulai berupaya menekan kerugian dan mulai berorientasi pada profitabilitas jangka pendek.

"Ini sejalan dengan orientasi perusahaan yang mempersiapkan diri, pasca bergabung dan kemudian akan segera IPO. Ketika sudah melantai di bursa, investor akan menuntut profitabilitas. Prospek bisnis inilah yang perlu dijaga oleh perusahaan," jelas dia.

Sementara itu, VP Corporate Communications Gojek Audrey Petriny mengungkapkan kebijakan penyesuaian insentif ini diambil sebagai langkah perusahaan untuk lebih memeratakan jumlah mitra yang dapat memperoleh insentif tersebut, sehingga semakin banyak mitra yang berpeluang mendapatkan penghasilan tambahan di masa pemulihan pandemi.

Selain itu, lanjutnya, skema pendapatan atau tarif pokok per jarak tempuh bagi mitra driver GoSend sejatinya tidak berubah. Kebijakan penyesuaian hanya dilakukan terhadap skema insentif dengan tujuan untuk memberikan peluang yang lebih besar bagi lebih banyak mitra untuk dapat memperoleh insentif.

Audrey menambahkan bahwa untuk meningkatkan penghasilan mitra driver, GoSend bahkan juga memiliki berbagai program apresiasi bagi mitra yang mampu mencatatkan performa baik. Di sisi lain, GoSend juga terus meningkatkan jumlah permintaan pelanggan melalui berbagai program pemasaran, pengembangan teknologi dan inisiatif lainnya, selain terus menjaga dan meningkatkan standar layanan yang lebih baik.

"Melalui berbagai upaya seperti skema pendapatan pokok yang dipertahankan, penyesuaian skema insentif, peningkatan program pemasaran, serta inisiatif lainnya termasuk program apresiasi bagi mitra, maka daya saing GoSend akan terus meningkat dan menjadi pilihan masyarakat," jelas Audrey.

(dna/dna)