Edan! Pria Ini Raup Rp 120 Juta/Bulan dari Jualan Mie Instan & Burjo

Anisa Indraini - detikFinance
Jumat, 11 Jun 2021 15:55 WIB
Unik! di Palembang Ada Warmindo dengan Konsep Food Truck Self Service
Foto: Instagram @indomietruck_cicik
Jakarta -

Mie instan dan bubur kacang ijo (burjo) merupakan salah satu makanan yang cukup familiar bagi banyak orang di Indonesia. Menu-menu ini biasanya diperjual-belikan di warung-warung sederhana di berbagai daerah yang biasa disebut sebagai warung makan indomie atau warmindo.

Karena harganya yang relatif ramah di kantong, warmindo sendiri sering menjadi tempat makan pilihan terutama bagi kalangan mahasiswa saat akhir bulan. Peluang itu dilihat oleh Heru Setiawan yang akhirnya memutuskan untuk membuka uasaha warmindo pada 2017 lalu. Dia membuat konsep bisnis ini menjadi lebih modern dan kekinian, yang biasanya fasilitas kaki lima menjadi bintang lima.

"Warmindo pada umumnya cuma buat makan, lalu orang pergi. Saya pengin orang nggak cuma makan, tapi nongkrong, ngerjain tugas. Makanya saya buat tempat yang bagaimana senyaman mungkin, kita hadirkan WiFi agar ketika habis makan mereka nyaman ngerjain tugas atau apa. Ada keuntungannya mereka bisa repeat order," katanya dalam program d'Mentor detikcom, Rabu (9/6/2021).

Terbukti konsep usaha warmindo 'modern' yang dikembangkan oleh Heru ini mengalami peningkatan. Pria yang akrab disapa Kang Ghobank itu kini telah memiliki enam cabang di kota Yogyakarta. Jika dihitung per bulan, omzetnya dari satu outlet bisa mencapai Rp 120 juta.

"Kalau sebelum corona kan kita 24 jam itu rata-rata Rp 3-4 juta omzet/hari. Rp 2 juta itu buat belanja karyawan, operasional segala macam, jadi Rp 2 juta itu profit buat kita di satu outlet. Tapi setelah pandemi ini rata-rata Rp 1,5-2 juta. Memang kita nonstop nggak berhenti karena kustomernya ada terus," tuturnya.

Jika ditarik ke belakang, saat itu modal awalnya mencapai Rp 70 juta dan butuh waktu sekitar 7-8 bulan untuk balik modal. Meski peminatnya banyak, berbisnis Mie instan dan burjo butuh modal kesabaran dan konsistensi yang tinggi untuk melawan banyaknya saingan.

"Waktu 3 bulan pertama itu kita jatuh bangun banget dalam artian bisa dikatakan kita nombok bahkan bisa sampai gadai HP, gadai motor," tuturnya.

Keunggulan dari bisnis warmindo dan burjo Kang Ghobank ini selalu melakukan inovasi dan variasi menu yang disajikan sangat beragam agar konsumen tidak bosan.

"Menu ada mie dogdog, omlet, nasi goreng, nasi telur, nasi sarden, ada ayam geprek, ayam mentega. Setiap bulan akan saya evaluasi untuk menghadirkan menu baru baik itu dari segi minuman atau makanan agar tidak monoton," jelasnya.

Kang Ghobank memberikan tips bagi yang ingin membuka usaha warmindo dan burjo agar mencari tempat yang strategis di sekeliling mahasiswa seperti lingkungan kos-kosan dan kampus. Semewah apapun konsepnya, disarankan agar tidak melupakan khasnya.

"Yang namanya warmindo atau burjo itu mau semewah apapun konsep yang kita bawa, jangan pernah lupakan khas-nya. Pada umumnya kustomer kita itu ketika melihat sesuatu hal yang baru terutama Indomie (Mie instan) itu orang mau masuk segan takut harganya mahal, apa nggak enak, tapi ketika sudah dari depan kita menghadirkan dimensi warna-warni Indomie bahwa semewah apapun oh ini pasti harganya sama," bebernya.

(aid/fdl)