Terpopuler Sepekan

Tren Gowes Memudar, Harga Sepeda Mulai Diobral

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Sabtu, 12 Jun 2021 11:15 WIB
Di masa new normal ini, penjualan sepeda meningkat tajam. Bahkan toko sepeda buka hingga dini hari.
Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Awal pandemi harga sepeda sempat mengalami lonjakan. Bahkan banyak toko yang diserbu oleh pembeli. Namun kini, penjualan sepeda mulai menurun.

Ketua Asosiasi Pengusaha Sepeda Indonesia (Apsindo) Eko Wibowo Utomo mengungkapkan penjualan menurun dibanding tahun lalu yang ekspektasinya 7-8 juta unit. Tahun ini hanya 5 juta unit. Menurut Eko hal ini turut menurunkan harga jual sepeda.

"Kalau kita lihat di pasar, kan gini, ada upnormal price karena harga digoreng (di 2020), karena permintaan tinggi harga dinaikin. Tapi dari harga di importir maupun produsen plus minus itu antara 20-30%, kalau ada yang lebih dari itu, tadinya harganya tidak normal," ujar Eko.

Menurut dia permintaan masyarakat mulai menurun. Walaupun demand masih ada dan tidak sebesar tahun sebelumnya.

Dia menjelaskan aktivitas masyarakat kini sudah mulai berjalan normal seperti sebelum pandemi. Apalagi sekarang masyarakat semakin melek harga dan cenderung lebih memilih sepeda dengan harga terjangkau ketimbang di atasnya.

"Mulai daya beli masyarakat di bawah itu sudah mencari harga yang, ya udah price sensitif lah, lebih cari yang (murah). Contoh beberapa sepeda lipat yang tadinya harga Rp 4 juta lebih sekarang sudah menyesuaikan di Rp 2 juta malah ada yang Rp 2 juta ke bawah," terangnya.

Faktor lainnya yang membuat harga sepeda merosot adalah terjadinya oversupply unit sepeda. Tingginya permintaan akan sepeda pada 2020 lalu mendorong produsen memproduksi lebih banyak sepeda, namun belum semua terjual, akhirnya terjadi oversupply di produsen.

Ditambah lagi ada serbuan sepeda impor yang pada akhir 2020 lalu sempat tertahan tak bisa masuk ke Indonesia dan baru bisa masuk awal 2021 ini.

"Jadi masuk 2021 itu kan ada masa di mana stok barang yang tadinya tertahan di 2020 itu mulai masuk lagi di 2021 awal dan itu menyebabkan terjadinya oversupply di pasar," terangnya.

(kil/eds)