Pungli Masih Merajalela di Priok, Tahu Alasannya?

Deden Gunawan - detikFinance
Senin, 14 Jun 2021 12:00 WIB
Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (12/2). Kemendag berupaya akan terus membuka akses pasar baru ke sejumlah negara di kawasan Afrika, Asia dan Amerika Latin untuk mencapai target ekspor nasional 2013 yang berkisar 200 juta dolar AS.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Praktek pungli yang terjadi di pelabuhan Tanjung Priok saling terkait, antara lain karena ada di depo-depo tertentu yang fasilitasnya kurang lengkap, lahan parkir sempit, dan lokasinya terlalu dekat dengan gerbang tol.

Menurut pengusaha angkutan truk Daniel Bastian Tanjung, ada depo jumlah RTG (Rubber Tyred Gantry) atau Reach Stacker (kendaraan untuk mengangkat container) terbatas. Akibatnya truk-truk yang masuk harus antre lama untuk mendapat giliran kontainernya diangkat.

"Akhirnya si sopir harus memberi ongkos tambahan agar alat itu mau mendekat. Kalau tidak ya tidak diprioritaskan," kata Daniel dalam Blak-blakan yang tayang di detikcom, Senin (14/6/2021).

Selain itu, ada juga depo yang lahan parkirnya tak terlalu luas dan berada di dekat gerbang tol. Akibatnya truk-truk harus antre di luar atau di pinggir jalan sehingga menimbulkan kemacetan. Kenyataan semacam itu pun menjadi peluang tersendiri terjadinya pungli kepada para sopir truk.

Idealnya, kata Daniel Bastian Tanjung, pelabuhan untuk bongkar muat kontainer disebar ke pelabuhan-pelabuhan lain. Selain akan mempercepat proses distribusi, juga akan mengurangi kemacetan, menghemat BBM serta biaya operasional.

Dia optimistis bila pelabuhan Patimban di Subang sudah selesai dan beroperasi penuh kelak sangat membantu mengefisienkan proses distribusi berbagai logistik. Apalagi jika ada pelabuhan di Cikarang, atau pelabuhan di Cilegon diperluas dan dilengkapi fasilitasnya.

"Karena kalau kita lihat di negara-negara maju seperti di Jepang, Korea, juga China, pelabuhan laut dan udara itu sudah bergeser jauh dari perkotaan. Di kita juga dulu ada Bandara Kemayoran dan Halim, kemudian kan pindah ke Cengkareng," kata Daniel Bastian Tanjung.

detikers pernah lihat pungli di sekitar dan masih terjadi sampai sekarang? Laporkan ke redaksi@detikfinance.com nanti tim redaksi akan coba telusuri dan infokan ke pemangku kebijakan. Ayo kita awasi dan berantas pungli bersama-sama!



Simak Video "Pungli 'Merogoh' Kocek Sopir Truk Hingga Rp 700 Ribu"
[Gambas:Video 20detik]
(deg/ang)