Bea Cukai Tepis Dugaan Skandal Impor Emas Rp 47,1 T di Soetta

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Senin, 14 Jun 2021 17:40 WIB
Petugas Bea Cukai lakukan pengawasan barang di Bandara
Ilustrasi/Foto: Dok. Bea Cukai

Apabila memang kode barang dalam pemberitahuan impor tidak sesuai, maka Ditjen Bea dan Cukai bisa menyesuaikannya kembali.

"Pemberitahuan impor barang, meskipun barang sudah keluar, itu dokumen kan ada, itu masih subject to audit. Kalau teman teman Direktorat Audit melakukan penelitian apabila menurut mereka nggak tepat itu bisa digeser ke HS yang sesuai rekomendasi mereka. Semua ada prosedurnya," kata Syarif.

Syarif pun menegaskan meski bea masuk emas impor ini 0%, bukan berarti pemasukan negara sama sekali tidak ada. Masih ada pajak lainnya yang mesti dibayar pengusaha, misalnya saja PPN 10%.

"Bea masuk memang 0%, tapi pajaknya ada yang lain PPN ada kok mereka bayar 10%. Jadi ada yang dibayar, dan ada pemasukan dari sisi importasi tersebut. Tidak ada yang tidak dibayarkan sama sekali," ujar Syarif.

Sebelumnya, Arteria Dahlan meminta Kejaksaan Agung mengusut laporan soal adanya skandal impor emas. Jumlah emas yang jadi masalah mencapai Rp 47,1 triliun disebutnya. Potensi kerugian negara mencapai Rp 2,9 triliun.

Dia meminta Jaksa Agung memeriksa Kepala Kantor Pelayanan Utama Bea Cukai di Bandara Soekarno Hatta. Bahkan Arteria menyebut inisial pihak yang diperiksa soal skandal impor emas.

"Ini ada masalah penggelapan, ini ada maling terang-terangan. Saya ingin sampaikan coba diperiksa kepala kantor pelayanan utama Bea dan Cukai Soekarno Hatta, namanya inisialnya FM, apa yang dilakukan, Pak? Ini terkait impor emas senilai Rp 47,1 triliun," kata Arteria dalam rapat bersama Jaksa Agung di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (14/6/2021).


(hal/ara)