Kasus COVID-19 Meledak, Jateng Kriris Tenaga Kesehatan & Alat Medis

Anisa Indraini - detikFinance
Kamis, 17 Jun 2021 12:35 WIB
Petugas medis menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) memeriksa kondisi pasien COVID-19 yang berstatus OTG (Orang Tanpa Gejala) saat kegiatan berjemur dan olahraga di Stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi, Jawa Barat, Senin  (21/12/2020). Kegiatan pemeriksaan kesehatan, berjemur dan berolahraga tersebut rutin dilakukan setiap pagi hari untuk meningkatkan daya tahan tubuh pasien yang menjalani isolasi.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Sejumlah daerah di Jawa Tengah mengalami kenaikan kasus COVID-19 yang sangat signifikan dan berstatus zona merah. Hal ini membuat daerah tersebut mengalami krisis tenaga kesehatan dan alat medis.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengaku sempat panik saat menghadapi kenaikan kasus COVID-19 itu untuk kedua kalinya. Pasalnya, penularannya yang berawal dari Kudus ini sangat cepat karena merupakan varian delta yang pertama kali ditemukan di India.

"Unsur ketidakpastian ada krisis tenaga kesehatan dan alat medis, hari ini Jawa Tengah mengalami itu. Maka kemarin kita mencoba untuk keluar teritori, ketika Kudus mengalami ini rasa-rasanya kepanikan muncul. Panik sebenarnya, bukan karena saya tidak mampu tapi panik," katanya dalam webinar yang diselenggarakan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Kamis (17/6/2021).

Berdasarkan catatannya, kondisi terkini COVID-19 di Jawa Tengah per 16 Juni ada 223.747 kasus. Dari jumlah itu, kasus aktif sebesar 15.395 orang, yang dirawat 7.053 orang, dan yang diisolasi 8.342 orang. "Ini memang grafiknya sudah melebihi pada kurva pertama atau gelombang pertama di 2020, nampak-nampaknya gelombang kedua ini sudah tinggi sekali. Tapi saya belum berani mengatakan apakah berdasarkan teori epidemologis ini masuk second wave karena the first wave-nya kita belum turun tapi sudah naik lagi," jelas Ganjar.

Untuk mengatasi krisis tenaga kesehatan dan alat medis itu, Ganjar menyebut pihaknya telah bekerja sama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Persatuan Persatuan Perawat Indonesia (PPNI), hingga sekolah dan kampus-kampus yang ada di Jawa Tengah. Dia meminta pihak sekolah atau perguruan tinggi fakultas kedokteran agar menempatkan anak didiknya untuk membantu tenaga kesehatan.

"Tiga perguruan tinggi negeri yang punya fakultas kedokteran di Jawa Tengah sekarang kita mintakan agar dokter-dokter intensif sekarang mulai kita masukkan. Termasuk di sekolah perawat mereka semester akhir kita minta untuk masuk. Saya lagi mem-propose kepada kampus agar yang mengerjakan thesis atau skripsi bisa digantikan dengan penanganan langsung di masyarakat karena ini akan jadi insentif buat mereka mahasiswa akhir bisa membantu," imbuhnya.

Selain itu, kata Ganjar, bantuan dari pusat dan Kabupaten/Kota setempat juga sangat membantu untuk mengatasi krisis tenaga kesehatan dan alat medis di Jawa Tengah.

"Krisis tenaga kesehatan dan alat medis ini memang harus dibantu, kabupaten tidak akan mampu bekerja sendiri. Maka kami turun tangan dan pusat membantu. Kami komunikasi alhamdulillah cukup intens dengan pusat, Kabupaten/Kota dan teman-teman di sekitarnya mendukung," tandasnya.

(aid/fdl)