BPP PLN Rentan Terhadap Kurs dan Harga BBM
Jumat, 17 Mar 2006 18:33 WIB
Jakarta - Berdasarkan audit yang dilakukan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Biaya Pokok Penyediaan (BPP) listrik PLN rentan terhadap kenaikan kurs dan kenaikan harga BBM."Setiap kenaikan kurs US$ sebesar Rp 100 akan menambah BPP sebesar Rp 210,4 miliar, sedangkan setiap kenaikan harga BBM solar sebesar RP 100 akan menaikkan BPP sebesar Rp 642,8 miliar," kata Ketua Tim Audit BPP Listrik BPK Hasby Ashidiqi dalam konferensi pers di kantor BPK, Jumat (17/3/2006).Hasby menambahkan, kerugian PLN tahun 2005 mayoritas disebabkan oleh kenaikan harga BBM khususnya solar pada Oktober lalu. Hal ini karena mayoritas pembangkit listrik PLN terutama diluar Jawa-Bali masih menggunakan bahan bakar solar."Dari produksi 95,98 juta MWH di Jawa dan Bali, 21 juta berasal dari pembangkit solar dan 7 juta dari minyak bakar, 35 juta dari pembangkit batu bara, 20 juta dari pembangkit gas dan sisanya pembangkit tenaga air. Kalau di luar Jawa pembangkit solar masih sangat dominan," urai Hasby.Dominannya penggunaan solar sebagai bahan bakar juga tercermin dari konsumsi solar PLN. Tahun 2004 konsumsi solar PLN mencapai 4,7 juta kiloliter per tahun, tahun 2005 mencapai hampir dua kali lipatnya sebesar 8 juta kiloliter per tahun.Selain harga solar dan nilai tukar, BPP juga dipengaruhi oleh biaya penyusutan listrik baik teknis akibat buruknya jaringan maupun non teknis seperti pencurian listrik. Setiap 1 persen penyusutan akan menambah BPP sebesar Rp 557,31 miliar.Oleh karena itu, PLN diharapkan bisa mengurangi tingginya BPP dengan beralih ke tenaga alternatif."Dengan beralih ke tenaga alternatif mungkin PLN bisa berinvestasi dan berkembang, karena selama ini PLN sulit berkembang akibat terus merugi. Namun ini terserah PLN dan pemerintah," imbau Hasby.
(qom/)











































