Teten Apresiasi Koperasi Wanita Gayo, Punya Aset hingga Rp 8,5 M

Erika Dyah Fitriani - detikFinance
Jumat, 18 Jun 2021 22:24 WIB
Kemenkop UKM
Foto: Dok. Kemenkop UKM
Jakarta -

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki melakukan kunjungan ke Koperasi Kopi Wanita Gayo (Kokowagayo) dalam kunjungan kerjanya di Aceh Tengah. Dalam kunjungan ini, ia mengapresiasi Kokowagayo yang menurutnya telah malang melintang di pasar internasional.

Teten menjelaskan Kokowagayo merupakan satu-satunya koperasi wanita di kawasan Asia Tenggara yang masuk dalam Organic Product Trading Company (OPTCO) Cafe Femenino. Diketahui, OPTCO adalah organisasi petani kopi wanita internasional yang berbasis di Peru, Amerika Selatan.

"Kokowagayo ini sudah mendunia. Menjadi kebanggaan Indonesia, bahwa ada koperasi wanita kiprahnya diakui secara internasional," ucap Teten dalam keterangan tertulis, Jumat (18/6/2021).

Ia mengatakan Kopi Gayo dari Aceh Tengah memang menjadi salah satu kopi terbaik yang diakui dunia. Meski demikian, masih ada beberapa kendala yang dihadapi para petani kopi gayo di Aceh Tengah, termasuk Kokowagayo, yaitu masalah harga dan kualitas kopi.

Teten menilai saat ini harga kopi mulai membaik menjadi US$ 6 atau setara dengan Rp 86.299 per kilogram (kg) di pasar New York. Sebelumnya, harga kopi hanya berada di angka US$ 5,9 atau setara Rp 84.916 per kg.

"Sementara harga kopi kita ini sebenarnya mahal, di harga US$ 11, atau sekitar Rp 158.270 per kilogram. Kenaikan harga kopi ini kemungkinan karena produksi dunia yang turun, termasuk Brasil. Ini bisa berimbas pada permintaan kopi Indonesia akan tinggi. Jadi, stok lama di dalam negeri bisa diserap pasar luar negeri," imbuhnya.

Ia melihat, di tengah harga komoditas pertanian yang turun saat panen raya, kopi justru melimpah. Untuk itu Teten menegaskan agar tata niaga kopi di Aceh Tengah diperbaiki, terutama terkait kelembagaannya melalui koperasi.

Sementara itu, Ketua Kokowagayo, Rizkani Melati mengatakan bahwa keseluruhan anggota koperasi diisi oleh petani kopi perempuan. Adapun jumlahnya sendiri mencapai 409 orang dengan jumlah lahan yang dikelola sebanyak 342 hektare (ha).

"Kami menjual green bean, pasarnya mayoritas sekitar 70 persen ke Amerika Serikat, 20 persen ke Eropa, dan sisanya 10 persen ke Australia dan Asia," rincinya.

Rizkiani menyampaikan saat ini aset Kokowagayo mencapai Rp 8,5 miliar. Sementara per tahun, kapasitas produksi Kokowagayo mencapai 450.000 ton. Ia menyebutkan, sekitar 20 kontainer atau sekitar 422.400 ton produksi Kokowagayo diperuntukkan bagi pasar luar negeri.

Dalam kesempatan yang sama, Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Bener Meriah, Aceh Tengah, Dailami merinci jumlah petani di Bener Meriah yang mencapai 64 ribu orang. Meski demikian, ia menjelaskan bahwa mayoritas lahan kopi di Kabupaten Bener Meriah masih dikelola secara perorangan.

"Tapi kami semua di sini punya keunggulan karena ditanam secara organik. Paling hanya 1 persen yang pakai pupuk," kata Dailami.

Dailami tak mengherankan jika Kopi Gayo asal Bener Meriah mampu menarik pasar dunia. Sebab, di wilayah ini pembeli kopi petani banyak dilakukan oleh beberapa koperasi. Di antaranya Koperasi Buana Mandiri, Koperasi Bahtera Permata Gayo, dan termasuk Kokowagayo.

"Kami berharap support Kemenkop UKM dan juga LPDB-KUMKM agar koperasi-koperasi lain bisa membantu menumbuhkan ekonomi petani kopi," pungkasnya.

(akn/hns)