Jokowi Minta Kejar Target Investasi Rp 900 T, Bahlil: Ini Tidak Main-main

Aulia Damayanti - detikFinance
Sabtu, 19 Jun 2021 21:30 WIB
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia
Foto: Sekretariat Kabinet
Jakarta -

Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia mengungkap Presiden Joko Widodo (Jokowi) mematok target investasi Rp 900 triliun untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi di atas 5% tahun ini.

"Presiden meminta kami untuk pertumbuhan ekonomi di atas 5% harus investasi minimal di atas Rp 900 triliun. Bayangkan ngurus investasi ini tidak main-main, pekerjaan yang berat sekali," katanya, dalam Rakornas dengan HIPMI secara virtual, Sabtu (19/6/2021).

Bahlil menerangkan hingga saat ini pihaknya terus berupaya untuk mencapai target tersebut. Dia mengungkap saat ini Indonesia sudah mampu merealisasikan investasi sebanyak Rp 219,7 triliun dari total target Rp 900 triliun.

"Kuartal-I kita sudah mampu merealisasikan melalui Deputi Bidang Pengendalian dan Pelaksanaan Penanaman Modal Badan Koordinasi Penanaman Modal (Dalaks BKPM) Imam Soejoedi, ini sudah Rp 219,7 triliun dari total Rp 900 triliun," terangnya.

Realisasi investasi yang telah tercapai itu, disebutkan oleh Bahlil lebih banyak investasi ke luar Pulau Jawa sebesar 52% dengan nilai Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA) sudah mulai berimbang.

"Lagi-lagi investasi di luar Pulau Jawa lebih besar dibandingkan di Pulau Jawa 52%, kini PMA dan PMDN kita juga mulai berimbang," ungkapnya.

Sebelumnya, pada 2020 PMDN atau investor dalam negeri lebih banyak menanam modal dibandingkan investor asing (PMA), penurunannya hampir 10%. Namun Bahlil mengatakan penurunan itu masih aman dibandingkan negara lain.

"Sebagian negara lain foreign direct investasinya turun 30%-40%, sementara di Indonesia turunnya tidak lebih dari 10%," lanjutnya.

Kini PMDN dan PMA Indonesia sudah mulai setara, artinya peningkatan penanam modal asing mulai meningkat. Menurut Bahlil hal itu membuktikan meningkatnya kepercayaan global kepada Indonesia.

"Realisasi foreign direct investasi itu mencerminkan trust global di negara kita lebih baik, di saat negara lain masih tetap turun," kata Bahlil.

(ara/ara)