Kisah John Pemberton, Penemu Coca-Cola yang Jatuh Miskin-Wafat karena Kanker

Anisa Indraini - detikFinance
Minggu, 20 Jun 2021 11:15 WIB
Ternyata Ini Alasan Kemasan Coca-Cola Berwarna Merah
Foto: Getty Images/Fotoatelie
Jakarta -

Siapa yang tak kenal Coca-Cola? Minuman bersoda itu telah menjadi merek mendunia yang biasanya digandrungi anak muda.

Tapi tahukah kamu siapa penciptanya? Dia adalah John Styth Pemberton, seorang ahli farmasi dari Atlanta, Georgia, Amerika Serikat (AS) yang menciptakan Coca-Cola pada 8 Mei 1886.

Penemuan Coca-Cola terjadi saat Pemberton ingin membuat obat penghilang rasa sakit pengganti morfin. Suami dari Ann Eliza Clifford itu menderita luka parah akibat perang sipil AS yang membuatnya mengonsumsi morfin hingga kecanduan.

Seiring dengan kesuksesannya bersama Coca-Cola, Pemberton ternyata tak benar-benar bisa lepas dari morfin. Kecanduannya justru makin menjadi hingga ia nyaris bangkrut karena mahalnya biaya untuk membeli morfin tersebut.

Dilansir dari My Allred Family, Minggu (20/6/2021), demi memenuhi kebutuhan keluarga, Pemberton menjual hak atas formula dan bagian dari perusahaannya. Dia masih percaya bahwa minuman ciptaannya itu akan menjadi besar di masa depan sehingga ingin mempertahankan hak kepemilikan.

Pemberton ingin memberikan perusahaan itu kepada Charley Pemberton. Sayangnya putranya itu lebih tertarik mendapatkan uang dengan cepat sehingga dia menjual apa yang tersisa ke taipan bisnis Asa Griggs Candler.

Pada bulan Agustus 1888, Pemberton yang telah sakit selama beberapa tahun itu akhirnya meninggal karena kanker perut. Pada saat kematiannya, dia sudah jatuh miskin dan masih kecanduan morfin.

Menurut Mark Pendergrast, yang menulis buku For God, Country, and Coca-Cola: The Definitive History of the Great American Soft Drink dan Perusahaan yang Membuatnya, Charley Pemberton juga ternyata menderita penyalahgunaan zat adiktif.

Di tangan Candler, Coca-Cola semakin berjaya karena menggunakan taktik pemasaran paling inovatif yang pernah dilakukan. Dia menyewa salesman keliling untuk membagikan kupon Coca-Cola gratis.

Tujuannya adalah agar orang-orang mencoba minuman, menyukainya, dan kemudian membelinya. Selain kupon, Candler juga memutuskan untuk memasarkan Coca-Cola dengan menempelkan logo pada kalender, poster, buku catatan, dan bookmark untuk menjangkau pelanggan.

Candler melakukan langkah kontroversial ketika dirinya menjual sirup Coca-Cola sebagai obat paten, mengklaim bahwa sirup itu bisa mengobati kelelahan dan sakit kepala.

Pada tahun 1898, Kongres mengeluarkan pajak pascaperang Spanyol-Amerika yang dibebankan untuk semua produk obat. Hal itu membuat ia tidak lagi menjual Coca-Cola sebagai obat, tetapi hanya sebagai minuman.

Momen itu menjadi akhir dari polemik kandungan kokain yang awalnya terdapat dalam Coca-Cola. Tahun 1929 perusahaan mengklaim telah membuang seluruh kandungan yang berkaitan dengan kokain.



Simak Video "Rekreasi ke Museum Coca-Cola Atlanta, Apa Saja yang Seru?"
[Gambas:Video 20detik]
(aid/zlf)