DAMPAK Ngeri Ekonomi Jika Corona Menggila Tak Bisa Dijinakkan

Danang Sugianto - detikFinance
Minggu, 20 Jun 2021 16:33 WIB
Poster
Dampak ngeri bila Corona yang menggila tak segera dijinakkan (Foto: Edi Wahyono)
Jakarta -

Kasus COVID-19 di Indonesia belakangan ini terus mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Pemerintah pun mengambil langkah untuk kembali memperketat pembatasan sosial demi meredam amukan corona.

Jika penyebaran COVID-19 tak bisa dikendalikan apa dampaknya ke ekonomi?

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menjelaskan, salah satu dampaknya adalah masyarakat kembali melakukan antisipasi dengan melakukan penghematan belanja. Artinya konsumsi akan menurun drastis.

"Simpanan bank makin gemuk, tapi ekonomi macet. Bank juga bingung mau salurkan pinjaman karena risiko usaha naik. Tadinya kan masyarakat mulai optimis belanja, tapi kondisi ledakan kasus pasca lebaran menurunkan kembali kepercayaan konsumen," terangnya saat dihubungi detikcom, Minggu (20/6/2021).

Jika itu terjadi maka tentu sektor yang kembali terdampak adalah restoran, perhotelan dan sektor pendukung pariwisata. Tak hanya itu, sektor lainnya juga akan ikut terpengaruh seperti sektor transportasi baik darat, laut dan udara.

"Saya prediksikan akan terdapat gelombang penutupan usaha dan penundaan pembayaran utang perusahaan transportasi yang naik signifikan tahun ini," tambahnya.

Jika banyak terjadi penutupan usaha, maka artinya badai PHK masih akan menerjang Indonesia. Bhima memprediksi jika itu berulang maka ekonomi RI masih akan dinaungi resesi.

Sementara Peneliti dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet mengatakan, jika melihat kondisi tahun lalu ketika gelombang pertama kasus Corona terjadi, pertumbuhan ekonomi terkontraksi selama 3 kuartal berturut-turut.

Namun menurutnya bukan berarti pertumbuhan ekonomi akan kembali terkontraksi atau berada di teritori negatif. Hal itu akan bergantung pada intervensi pemerintah nantinya. Apa yang akan diambil pemerintah juga akan menentukan badai PHK bisa dihindari atau tidak.

"Kalau sekarang kita lihat sebenarnya masih berupa PPKM mikro. Kalau PPKM mikro memang potensi berkurang aktivitas masyarakat jauh lebih sedikit jika dibandingkan PSBB seperti yang dilakukan oleh pemerintah di awal pandemi silam. Jika dilakukan PSBB pun akan tergantung berapa lama," terangnya.

"Jika dilakukan lebih cepat dan lebih disiplin seharusnya potensi pemulihan ekonomi masih bisa dilanjutkan pemerintah di kuartal selanjutnya. Sehingga bisa mengurangi potensi gelombang PHK susulan," tambahnya.

Simak video 'Menkeu Wanti-wanti Kenaikan Kasus Covid-19, Pengaruhnya ke Ekonomi':

[Gambas:Video 20detik]



(das/dna)