Polling detikcom

Polling: Setuju Nggak Jakarta Lockdown?

Tim detikcom - detikFinance
Selasa, 22 Jun 2021 07:01 WIB
poster
Iustrasi Jakarta Lockdown di Tengah Ledakan Kasus Corona (Foto: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Desakan agar Jakarta lockdown kian santer menggema kala lonjakan kasus penularan baru virus Corona (COVID-19) di ibu kota. Pengusaha pun pasrah bila kebijakan itu diterapkan oleh pemerintah. Namun, kalau bisa tak perlu sampai lockdown.

Wacana lockdown sendiri muncul atas desakan dan saran berbagai pihak. Sementara hingga kini pemerintah tidak tampak akan memberlakukan kebijakan tersebut.

"Ya bagi kami sebenarnya tentu memang kalau memang tidak perlu lockdown itu kami sangat berharap, karena kalau lockdown itu kan berarti akan lebih terkunci semua berbagai aktivitas," kata Ketua Umum DPD Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) DKI Jakarta Sarman Simanjorang kepada detikcom, Senin (21/6/2021).

Adanya pengetatan semisal jam operasional dunia usaha dan lain sebagainya, menurutnya pasti akan sangat mengganggu dan menurunkan produktivitas, apalagi Jakarta merupakan jantung ekonomi.

Tapi, pihaknya menyerahkan kebijakan tersebut kepada pemerintah. Pengusaha sendiri akan mendukung jika untuk kepentingan bersama.

"Kalau ditanya hati kecil kami pengusaha ya tentu memang berharap tidak (lockdown), tapi kalau memang itu merupakan langkah yang harus dilakukan oleh pemerintah ya kami juga tidak bisa berbuat banyak, kami harus ikut karena ini juga adalah untuk keselamatan kita bersama," ujar Sarman.

Dia juga berpesan apabila Jakarta lockdown terpaksa dilakukan maka tidak berlaku dalam jangka waktu yang panjang, setidaknya cukup 14 hari dan kemudian dievaluasi kembali perlu diperpanjang atau tidak.

"Kalau terlalu berkepanjangan ini kan terus terang saja sangat meresahkan dunia usaha. Jadi kalau 14 hari mudah-mudahan dalam 14 hari itu sudah bisa remnya ditarik kembali," tambahnya.

Menurut Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal bila lockdown dilakukan sekarang, kemungkinan ekonomi kuartal III, tepatnya di bulan Juli-September akan kembali negatif pertumbuhannya.

"Kalau kita asumsikan lockdown dilakukan meluas selama satu kuartal, misalnya di kuartal III, dari Juli sampai September. Maka ada kemungkinan pertumbuhan ekonomi di kuartal III akan kembali negatif," ungkap Faisal.

Secara mikro, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menyebutkan selama lockdown semua sektor ekonomi yang bertumpu pada pergerakan manusia akan anjlok. Misalnya toko ritel, transportasi, hotel, hingga restoran. Dia memastikan sektor ini akan turun tajam omzetnya.

Nah, bagaimana menurut kalian, detikers? Kalian setuju nggak Jakarta Lockdown? Isi polling ini ya dengan cara memilih jawaban setuju atau tidak setuju, jangan lupa sertakan alasannya. Polling akan ditutup pada Selasa (22/6/2021) besok pukul 15.00 WIB.

Simak Video: Jokowi Minta Isolasi Pasien COVID-19 Tersebar di Kecamatan-Kelurahan

[Gambas:Video 20detik]



(dna/dna)