Kisah Pilu Eks Karyawan Merpati Gegara Uang Pesangon Rp 318 M Mandek

Siti Fatimah - detikFinance
Rabu, 23 Jun 2021 14:16 WIB
Merpati
Ilustrasi/Foto: Andhika Akbarayansyah/Infografis
Jakarta -

Persoalan tunggakan biaya pesangon para karyawan PT Merpati Nusantara belum menemui titik terang. Dampaknya, kehidupan ekonomi para mantan pegawai berubah dan sebagian besar dari mereka mulai banting setir bekerja sebagai ojek online, petani, hingga kuli bangunan.

Ketua Paguyuban Pilot Ex Merpati (PPEM) Capt Anthony Ajawaila mengatakan, ribuan karyawan eks Merpati yang hak-hak normatifnya belum terpenuhi ini berjumlah 1.233 orang dengan cicilan yang belum dituntaskan sebanyak Rp 318 miliar. Ditambah dengan hak manfaat pensiunan dari 1.744 pensiunan sebesar Rp 94 miliar.

Menurutnya, tidak dibayarnya uang pesangon tersebut menjadi masalah bagi kehidupan keluarga karyawan. "Masing-masing eks pegawai berharap uang pesangon akan dinikmati di masa pensiun maupun untuk melanjutkan keberlangsungan hidup keluarganya," kata Capt Anthony dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (23/6/2021).

"Tidak dibayarnya uang pesangon tersebut tentunya menjadi masalah di setiap keluarga pegawai, mulai dari adanya perceraian, anak sakit, putus sekolah, alih kerja menjadi supir ojol, tukang bangunan dan lain-lain. Bahkan setiap minggu kami mendengar kabar kematian rekan kami sesama eks pegawai Merpati (dalam kondisi pesangon dan pensiunan belum dibayar)," kata Capt Anthony menambahkan.

Eks Awak Kabin Merpati, Muhammad Irfan juga mengatakan hal serupa, kondisi teman-teman mantan pramugara tak lebih baik dari sebelumnya. Dia mengaku, banyak teman-temannya yang berpisah dengan keluarga dan tidak bisa bekerja.

"Terkait kondisi kami sebagai mantan awak kabin secara umum teman-teman ini banyak yang cerai dengan keluarganya, ada yang kerja jadi ojek, bahkan ada yang kerja di sawah. Di sawah ini tidak dapat bayaran kecuali saat panen," kata Irfan.

Dalam aksinya kali ini, ia sempat mengajak teman-temannya bergabung, namun kondisi dan situasi mereka sudah jauh lebih mengkhawatirkan. Sehingga, Irfan menjadi perwakilan pegawai yang hadir dalam pembacaan surat terbuka kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Jangankan untuk ke Jakarta kebetulan saya dari Surabaya untuk mereka kebutuhan aja buat sehari-hari kesulitan. Inilah yang perlu diketahui Bapak Presiden. Karena teman-teman kami banyak yang sangat menderita, anaknya putus sekolah, sakit sendiri, cari pekerjaan juga sudah susah karena kita sudah berumur semua, sudah kepala lima. Ditambah dengan kondisi dunia susah semua ada pandemi," ungkapnya.

Irfan berharap, melalui surat yang disampaikan pada Presiden Jokowi dapat menggerakkan pihak perusahaan untuk segera memenuhi hak-hak karyawan yang belum dilunasi. "Mohon perhatian agar beliau membayarkan kami melalui pertolongan beliau, supaya pihak-pihak ini membayarkan hak kami," pungkasnya.

Tonton juga Video: Penjelasan Garuda Indonesia Terkait Pensiun Dini Karyawan

[Gambas:Video 20detik]



(hns/hns)