Cerita TNI Buka Jalan Menyambung Ekonomi di Pedalaman Nunukan

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Jumat, 25 Jun 2021 13:23 WIB
Pembukaan Jalan di Kabupaten Nunukan
Foto: Pembukaan Jalan di Kabupaten Nunukan (Istimewa)
Jakarta -

Manisnya pembangunan infrastruktur tentu sudah dirasakan untuk masyarakat yang tinggal di kota-kota besar. Namun, di wilayah pinggiran khususnya wilayah terdepan Indonesia, infrastruktur menjadi barang mewah.

Bagaimana tidak, hingga saat ini masih ada masyarakat Indonesia yang belum menikmati listrik. Hal itu sebagaimana terjadi di Desa Binusan Dalam, yang merupakan pemekaran Desa Binusan, Kecamatan Nunukan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.

Ketua RT 11 Desa Binusan Dalam, Sappe bercerita, desanya memiliki 7 rukun tetangga (RT) dengan jumlah penduduk sekitar 1.834 jiwa. Sejak menjadi desa otonom tahun 2009 lalu, warga Desa Binusan Dalam tak mengenal listrik.

"Usia saya saat ini sudah 35 tahun, sampai sekarang belum pernah menikmati listrik, bagaimana sih rasanya beli token listrik itu, penasaran saya," kata Sappe.

Menurutnya, kalaupun ada penerangan di Desa Binusan Dalam, itu hanya rumah milik warga di RT 6 dan 10. Itupun, kata dia, merupakan bantuan listrik tenaga surya dari Pemerintah Kalimantan Utara. Serta, tak bisa bertahan lama.

Sejatinya, persoalan di Desa Binusan Dalam bukan hanya itu. Masih ada persoalan lain yang mendasar seperti terbatas akses jalan.

Perlahan tapi pasti, keinginan warga Desa Binusan Dalam untuk menikmati akses jalan bakal segera terwujud. Melalui program Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD), Kodim 0911 Nunukan akan membuka akses jalan untuk Desa Binusan Dalam.

"TMMD di wilayah Kodim 0911 Nunukan ini merupakan program setiap tahun, karena termasuk TMMD wilayah perbatasan. Jadi ini selaras juga dengan programnya Presiden Republik Indonesia, Bapak Jokowi membangun dari pinggiran, atau membangun dari perbatasan," kata Komandan Kodim 0911/Nunukan sekaligus DansatgasTMMDke-111 Letkol Czi Eko Pur Indriyanto.

Dia pun menjelaskan, masih banyak desa yang terisolasi karena belum memiliki akses jalan. Hal itu seperti yang terjadi di Desa Binusan Dalam khususnya di RT 11 yang mana masyarakat masih menggunakan akses jalan setapak. Minimnya akses jalan ini membuat masyarakat tidak bisa optimal dalam memanfaatkan sumber daya mereka.

"Dan di sini masih banyak desa-desa yang terisolasi, jadi mereka belum punya akses jalan, seperti pelaksanaan TMMD sekarang, itu ada satu desa, satu RT jumlahnya ada 55 KK itu masih menggunakan akses jalan setapak. Kemudian di wilayah tersebut untuk sawah cukup luas kurang lebih 20-30 ha. Karena keterbatasan akses yang dikelola baru sekitar 5 ha," paparnya.

Dia mengatakan, melalui program tersebut, pihaknya membantu pemerintah daerah dalam pemerataan pembangunan. Sehingga, masyarakat dapat merasakan kemajuan dari pembangunan di Kabupaten Nunukan secara khususnya, dan Indonesia pada umumnya.

"Dan diharapkan juga dengan adanya pembukaan akses jalan ini, nanti PLN mau menyambungkan listriknya ke masyarakat," katanya.

TMMD sendiri baru dibuka pada 14 Juni lalu. Lewat TMMD, pembukaan akses jalan akan dilakukan dengan lebar 6 meter. Harapannya, nanti mobil bisa masuk.

Akses jalan ini berupa pembukaan dan pemadatan. Pembangunan tahap selanjutnya akan diserahkan pemerintah setempat.

"Ini baru pembukaan, nanti kan ada tahapan, baru pembukaan dan pemadatan. Pembukaan dan pemadatan, dengan pasir dan batu nantinya untuk awalnya, kalau ini dipakai dulu, nanti peningkatan terserah Kabupaten Nunukan peningkatannya bagaimana," katanya.

Dia mengatakan, dengan terbukanya akses jalan diharapkan dapat mempercepat pembangunan di wilayah tersebut. Kemudian, roda perekonomian juga akan berjalan lebih cepat.

"Masyarakat mau mengelola sawahnya, ketahan pangannya juga lebih bagus. Terbuka akses kan untuk menjual pertanian juga mudah," katanya.

Tak hanya akses jalan, Eko mengatakan, melalui TMMD pihaknya juga melakukan perbaikan untuk beberapa rumah yang tak layak huni. Serta, melakukan pembuatan fasilitas MCK.

"Selain pembukaan jalan, kita juga membangun rehab untuk rumah tidak layak huni, ada 5 unit. Kemudian pembuatan MCK seperti kita ketahui bersama kalau masyarakat di dalam itu kan masalah kebersihannya juga kurang, makanya kita juga mengedukasi masyarakat ya dibuatkan MCK sehingga untuk membuat kotoran dan lain sebagainya ada tempatnya," paparnya.

(acd/dna)