Kadin: Bisnis Jarak Prospektif
Senin, 20 Mar 2006 17:26 WIB
Jakarta - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) optimistis bisnis jarak akan memiliki pangsa pasar yang prospektif karena meningkatnya kebutuhan energi alternatif BBM.Berdasarkan kajian kelompok kerja (pokja) jarak yang dilakukan Kadin, investasi tanaman jarak membutuhkan biaya kecil sedangkan pengembalian modalnya relatif cepat.Untuk investasi dari lahan hingga menjadi minyak jarak hanya membutuhkan Rp 6 juta per hektar. Sedangkan pengolahan dari lahan ke biodiesel membutuhkan investasi Rp 10 juta per hektar, dengan waktu pengembalian modal maksimal 8 tahun."Dalam empat tahun pertama sudah bisa menghasilkan biji jarak 1 ton per hektar sementara tahun kelima sudah 5 ton biji per hektar, apalagi kalau sudah 8 tahun," kata Ketua Pokja Jarak Kadin, Suharyo Husen di Menara Kadin Indonesia, Kuningan, Jakarta, Senin (20/3/2006).Prospek bisnis jarak ini sangat menjanjikan karena pemerintah sedang menggalakan produksi biodiesel. Minyak jarak adalah bahan baku untuk biodiesel."Padahal bisnis jarak ini sekali berinvestasi bertahan selama 40 tahun," tambahnya.Saat ini bibit jarak masih harus diimpor, namun Suharyo yakin, tahun 2007 pengadaanya sudah bisa dilakukan dari dalam negeri.Dicontohkan, PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) telah menargetkan kebutuhan BBM untuk pabrik gulanya pada musim giling 2006 sudah dapat dipenuhi dari minyak jarak. Dengan menggantikan 10 juta liter solar dengan minyak jarak.Pemerintah juga telah mencanangkan 2 persen dari kebutuhan BBM nasional berasal dari energi alternatif.
(ir/)











































