Erick Thohir Wanti-wanti Hal Ini ke Bos Telkom-Telkomsel

Siti Fatimah - detikFinance
Selasa, 29 Jun 2021 16:46 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mewanti-wanti direksi serta komisaris Telkom dan Telkomsel untuk menjaga keseimbangan di era pasar terbuka.

Awalnya, Erick mencontohkan kondisi yang terjadi di industri Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) diantaranya Bank BNI, Mandiri, BRI dan BTN. Menurutnya, mereka tetap dapat bersaing dan sustain di market pasar terbuka.

"Untuk industri Himbara atau perbankan kita di mana bank-bank Himbara kita sustain di market yang terbuka dengan persaingan bisnis antara swasta asing terbuka, kita tidak memonopoli tapi kompetisi sehat tanpa meninggalkan penugasan negara ke kami misalnya dengan seperti bantu UMKM," kata Erick dalam acara peluncuran TADEX (Tanah Air Digital Ecxhange) secara virtual, Selasa (29/6/2021).

Lebih lanjut, ia pun menekankan pada para direksi dan komisaris yang hadir secara online agar dapat mengikuti jejak Himbara dalam persaingan di pasar terbuka. "Kami juga di sini menekankan para direksi yang hadir, komisaris yang hadir Telkom Telkomsel sama seperti Himbara," ujarnya.

"Saya harapkan kita harus jadi penyeimbang, yes pasar terbuka, ada persaingan perusahaan telco lain, service telco lain, tapi itulah market yang memang sudah kita sepakati," kata Erick menambahkan.

Dia juga menekankan agar Telkomsel dapat berkembang dan bermetamorfosis menjadi perusahaan digital, service company dan backbone digitalisasi salah satunya melalui investasi di data center di mana data harus terproteksi dan terlindungi.

"Ini sejalan dengan program yang disampaikan Pak Presiden, bagaimana hilirisasi digital ekonomi harus jadi keseimbangan. Kita harus jaga market kita, UMKM kita, konten lokal kita dan semua generasi muda yang harus mendapatkan harapan ke depannya," jelasnya.

Tak lupa, Erick pun mengucapkan selamat atas peluncuran buah karya hasil kolaborasi Telkom dan Telkomsel. "Diharapkan kolaborasi ini bisa menjadi kekuatan penyeimbang dan harus dijaga sustain. Ini momen bersejarah platform premium publisher program pertama karya anak bangsa, yang tidak kalah dengan Google Ads dari Indonesia untuk Indonesia," pungkasnya.

(fdl/fdl)