Gerai Tutup Saat PPKM Darurat, Matahari Minta Bantuan Pemerintah

Danang Sugianto - detikFinance
Kamis, 01 Jul 2021 19:15 WIB
Setalah Pasaraya Blok M dan Manggarai, Matahari juga akan menutup gerainya di Mal Taman Anggrek.
Ilustrasi/Foto: Sylke Febrina Laucereno
Jakarta -

PT Matahari Department Store Tbk meminta pemerintah memberikan dukungan kepada para pelaku industri ritel. Sebab selama berlakunya PPKM Darurat 3-20 Juli 2021, seluruh pusat perbelanjaan di Jawa dan Bali harus tutup.

CEO Matahari Terry O'Connor mengatakan, kebijakan itu tentu sangat berat bagi seluruh pelaku industri ritel. Oleh karena itu dia meminta pemerintah Indonesia juga memberikan dukungan kepada para pelaku industri ritel, seperti halnya dilakukan banyak pemerintah di negara lain.

"Saya merasa kami secara industri membutuhkan dukungan dari pemerintah. Seperti kita ketahui banyak negara juga memberikan dukungan kepada sektor ritel untuk bertahan. Misalnya untuk biaya sewa untuk mengurangi beban pengeluaran biaya," tutur Terry dalam konferensi pers virtual, Kamis (1/7/2021).

Terry menjelaskan, keuangan perusahaan ritel selama pandemi tentunya sudah sangat berat. Perusahaan juga masih harus mengeluarkan biaya tambahan selama pandemi.

"Karena kami juga harus tetap menjaga pengeluaran kami untuk melakukan protokol kesehatan, untuk sanitasi, untuk vaksinasi dan healthcare," terangnya.

Meski begitu, Terry mengakui para pemilik mal atau pusat perbelanjaan selama pandemi sudah memberikan dukungan dengan menerapkan diskon sewa. Namun para pemilik mal tentu tidak bisa terus menerus melakukan hal itu.

Hal yang disayangkan juga oleh perusahaan adalah masa pemberlakuan PPKM Darurat. Meski secara hitungan hanya sekitar 2 minggu lebih, tapi ada 3 akhir pekan selama 3-20 Juli 2021.

Dia menggambarkan saat ini jumlah gerai Matahari di Jawa dan Bali ada sebanyak 86 gerai dan menyumbang 56% dari pendapatan perusahaan.

Terry mengaku belum bisa memberikan hitungan berapa kira-kira potensi kehilangan dari penutupan 86 gerai Matahari selama PPKM Darurat berlangsung. Namun dia pastikan tentu hal yang buruk bagi sebuah perusahaan ritel jika harus kehilangan 56% potensi pendapatannya.

"Sangat berat tentunya bagi seluruh perusahaan ritel untuk kehilangan 56% pendapatannya. Tapi saya tidak bisa memberikan perkiraan berapa kerugian kami," ucapnya.

(das/hns)