Lonjakan Kasus COVID-19 Bikin Panic Buying, Apa Saja yang Dibeli?

Aulia Damayanti - detikFinance
Jumat, 02 Jul 2021 15:36 WIB
Panic buying... as shoppers going round for their daily essentials at local supermarket in Bayan Baru, Penang.

Starpic By: ZAINUDIN AHAD/The Star / 11 Mac 202
Ilustrasi/Foto: The Star/SYSTEM
Jakarta -

Kasus COVID-19 di tanah air menggila, kasus di beberapa daerah makin meningkat per harinya. Kondisi ini pun ternyata menimbulkan panic buying dari masyarakat terhadap alat kesehatan hingga obat-obatan, terkhusus untuk pengobatan COVID-19.

"Panic buying dipicu kalau masyarakat merasa supply terbatas. Selected goods masih mengalami panic buying saat ini, seperti tabung oksigen, obat tertentu, khususnya terkait alat dan obat untuk yang terkena COVID-19," kata Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Anthony Budiawan kepada detikcom Jumat (2/7/2021).

Sementara, menurut Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah masyarakat tidak perlu panik karena PPKM Darurat ini hanya diberlakukan 17 hari dan pasar tidak tutup selama aturan itu. Masyarakat juga bisa membeli sembako secara online.

"Yang melakukan panic buying hanya orang-orang egois. Saya yakin tidak akan terjadi. Tidak ada alasan untuk panic buying. PPKM darurat ini tidak menutup semua pasar. Masyarakat bisa beli sembako secara online persediaan sangat cukup. PPKM darurat juga hanya 17 hari tidak ada yg perlu bikin panik," ungkapnya.

Untuk perbandingan, dari pantauan detikcom di dua supermarket memang tidak terlihat ada panic buying untuk kebutuhan pokok. Di supermarket TipTop, Ciputat, Tangerang Selatan mulai pagi sekitar pukul 09.30 antrean pengunjung di depan pintu masuk terpantau mengular. Antrean ini disebabkan karena pihak TipTop membatasi jumlah pengunjung yang masuk. Satpam memperbolehkan pengunjung yang mengantre masuk jika sudah ada sejumlah pengunjung yang keluar dan jedanya cukup lama.

Jumlah belanja pengunjung masih terbilang wajar, meski penggunaan trolly didominasi dan rata-rata penuh dan jarang yang menggunakan keranjang. Tetapi, tidak terlihat pengunjung yang berbelanja secara berlebihan karena stok dari kebutuhan pokok di sana terlihat masih tersedia.

Sementara di lokasi kedua, Hari Hari Pasar Swalayan, Bintaro,Tangsel terpantau ramai. Kondisi di dalam antrean untuk ke kasir tidak terlalu panjang. Dari pantauan detikcom semua kasir yang berjumlah 17 dibuka semua oleh pihak Hari-Hari. Semua kasir terlihat sibuk mentransaksikan belanjaan dari pengunjung.

Ketika ditanya ke salah seorang pengunjung, apakah kegiatan belanja saat ini merespons kebijakan PPKM darurat yang berlaku besok, dia mengaku bukan. Ini menjadi bagian dari kegiatan belanja bulanan yang dilakukan tiap bulan.

"Saya sih nggak panik kayak gitu ya, namanya panic buying gitu. Ini sih biasa belanja bulanan aja, tapi juga stok buat anak-anak yang kerja sama kuliah di rumah," katanya.

(eds/eds)