Andre Rosiade Tanya Dirut Biofarma Soal Vaksin Dosis Ketiga, Ini Jawabnya

Mega Putra Ratya - detikFinance
Rabu, 07 Jul 2021 15:00 WIB
Anggota Komisi VI DPR RI Andre Rosiade meminta Menteri BUMN Erick Thohir untuk berkoordinasi dengan Menteri Perhubungan agar GeNose C19 dapat dijadikan alat tes COVID-19 di bandara.
Foto: Istimewa
Jakarta -

Otoritas Turki mulai menyuntikkan dosis ketiga vaksin COVID-19 Sinovac untuk para tenaga kesehatan dan warga berusia 50 tahun ke atas. Pemberian dosis ketiga ini menjadi bagian dari program vaksinasi nasional Turki yang masih berlanjut hingga kini.

Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Gerindra Andre Rosiade meminta pemerintah memberi kejelasan apakah nantinya Indonesia akan turut memberlakukan kebijakan vaksinasi COVID-19 seperti yang dilakukan pemerintah Turki. Andre bertanya hal itu dalam rapat dengar pendapat dengan Direktur Utama PT Biofarma Honesti Basyir,

"Di berbagai negara salah satunya Turki sudah mulai memberikan vaksin dosis ketiga bagi Sinovac. Pertanyaan saya, ini kebijakan pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan berkoordinasi dengan Biofarma seperti apa?" kata Andre, Rabu (7/7/2021).

Andre mengaku khawatir, penambahan dosis vaksin COVID-19 dari Sinovac ini hanya dijadikan bisnis dan menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan.

"Apakah di Indonesia nanti akan ada suntikan ketiga atau tidak. Atau mungkin saja nanti ada suntikan keempat. Sehingga ini nanti jadi bisnis Sinovac kepada kita untuk menambah jumlah dosis yang disuntik," terang Andre.

Dalam kesempatan itu, Andre meminta Dirut PT Biofarma menggencarkan sosialisasi penggunaan alat tes COVID-19 dengan cara berkumur-kumur, Bio Saliva. Andre menilai, dengan sifat kumur gragle, penggunaan Bio Saliva bisa menjadi alternatif dari sisi kenyamanan bagi masyarakat yang ingin melakukan tes COVID-19.

"Saya sudah mencoba menggunakan Saliva. Menurut saya sangat mudah. Ini perlu Bapak sosialisasikan, sehingga kalau ada masyarakat yang takut dicolok hidung atau mulutnya, bisa menggunakan Saliva. Harapan saya, kalau bisa harga Saliva itu lebih murah dari antigen," kata Andre.

Menjawab pertanyaan Andre terkait vaksin dosis ketiga atau booster, Honesti Basyir mengatakan pihaknya kini tengah berkoordinasi dengan pemerintah serta lembaga terkait seperti Badan POM dan organisasi profesi. Dalam koordinasi itu disebutkan bahwa pemerintah saat ini sedang fokus melakukan percepatan vaksinasi COVID-19 baik dosis pertama maupun kedua.

"Dosis pertama dan kedua kita belum optimal, kita ingin optimalkan itu dulu. Tapi paralel dengan itu, untuk vaksin dosis ketiga akan kita bicarakan minimal untuk tenaga kesehatan dulu," kata Honesti.



Simak Video "Peta Sebaran 1.624 Kasus Covid-19 Per 1 Oktober: DKI Tertinggi"
[Gambas:Video 20detik]
(mpr/dna)