Lebanon Bak Neraka: Listrik Mati, Warga Krisis Air Bersih

Tim detikcom - detikFinance
Sabtu, 10 Jul 2021 07:00 WIB
Krisis ekonomi yang parah membuat Lebanon disebut bagai neraka oleh warganya sendiri. Hiperinflasi dan kelangkaan bahan pokok membuat situasi tak tertahankan.
Ilustrasi/Foto: Getty Images/Spencer Platt
Jakarta -

Lebanon tengah berjuang untuk tetap 'hidup' di tengah kondisi krisis listrik dan air yang parah setelah dua pembangkit listrik utama negara tersebut kehabisan bahan bakar. Demikian dikutip dari Bloomberg, Sabtu (10/7/2021).

Electricite Du Liban(EDL), perusahaan listrik terbesar di Lebanon mengatakan stasiunnya di Deir Ammar dan Zahrani yang memproduksi sekitar 40% listrik negara itu, sudah ditutup pada Jumat kemarin.

"Perbankan belum menyetujui pendanaan yang memungkinkan EDL mengirimkan bahan bakar yang sudah menunggu di pelabuhan sejak pekan lalu," tulis EDL dalam pernyataannya.

Dalam komentar terpisah, EDL di kota timur Zahle meminta penduduk untuk mengurangi konsumsi, dengan mengatakan "pasokan listrik telah terputus di seluruh wilayah Lebanon tanpa batas."

Lebanon sendiri telah terlunta-lunta sejak akhir 2019 dari krisis keuangan terburuk dalam beberapa dekade. Mata uang mereka runtuh dan mendorong inflasi menjadi tiga digit. Pemerintah pun bangkrut, gagal membayar utang internasionalnya, dan gagal mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mendapatkan dukungan internasional.

Saat ini rumah tangga di Lebanon hanya bisa merasakan listrik beberapa jam sehari. Pada saat yang sama, generator swasta sekarang juga dimatikan untuk waktu yang lama setiap hari demi menghemat bahan bakar yang langka dan mesin istirahat yang tidak dirancang untuk menjadi sumber tenaga utama.

Perusahaan air bahkan telah meminta masyarakat mengurangi konsumsi mereka seminimal mungkin setelah terpaksa menutup pompa air dan stasiun distribusi karena kekurangan listrik. Perusahaan Air Lebanon Utara mengumumkan ini sebagai keadaan darurat tingkat tinggi.

Bank sentral Lebanon telah mensubsidi bahan bakar, obat-obatan, dan bahan makanan melalui nilai tukar preferensial, tetapi dengan cepat kehabisan dana karena tidak adanya pemerintahan yang menstabilkan ekonomi. Hasilnya adalah kelangkaan parah tidak hanya bahan bakar untuk listrik tetapi juga obat-obatan yang banyak digunakan mulai dari antibiotik hingga perawatan jantung dan kanker, serta bensin.

Simak Video: Parahnya Krisis Ekonomi di Lebanon, Warga Berebut Bensin di SPBU

[Gambas:Video 20detik]



(eds/eds)