Perjalanan Vaksin Kimia Farma yang Banyak Dikritik Hingga Ditunda

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Senin, 12 Jul 2021 16:16 WIB
Vaksin Covid-19: Pfizer-BioNTech berupaya dapatkan izin vaksinasi dosis ketiga di Asia, Eropa, dan Amerika Serikat
Perjalanan Vaksin Kimia Farma yang Banyak Dikritik Hingga Ditunda
Jakarta -

Rencana Kimia Farma akan membuka klinik vaksinasi individu mulai Senin ini telah ditunda. Karena adanya berbagai polemik, vaksin Kimia Farma ini sendiri akan ditunda hingga batas waktu yang belum ditentukan.

"Kami mohon maaf karena jadwal Vaksinasi Gotong Royong Individu yang semula dimulai hari Senin 12 Juni 2021 akan kami tunda hingga pemberitahuan selanjutnya," kata Sekretaris Kimia Farma Ganti Winarno Putro, dalam keterangannya, Senin (12/7/2021).

Penundaan ini dilakukan karena masih banyaknya polemik dan pertanyaan di masyarakat. Untuk itu Kimia Farma memutuskan untuk memperpanjang sosialisasi mengenai vaksin COVID-19 berbayar ini.

Lalu bagaimana perjalanan vaksin Kimia Farma yang banyak dikritik hingga akhirnya ditunda? berikut 3 poin pentingnya.

1. Awal Pelaksanaan Vaksin Berbayar Kimia Farma

Program vaksin berbayar dari Kimia Farma ini keluar dengan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No. 19 Tahun 2021 tentang Pelaksanaan Vaksinasi dalam Rangka Penanggulangan Pandemi COVID-19. Dalam Permenkes tersebut, seseorang bisa membeli vaksin COVID-19 secara pribadi melalui vaksinasi gotong royong individu.

Kimia Farma menyatakan bahwa pada prinsipnya perusahaan membuka vaksinasi gotong royong individu tersebut guna mendukung program pemerintah. Kimia Farma menjelaskan kalau tujuan mereka hanya untuk mendukung percepatan vaksinasi nasional, bukan mencari untung.

"Sehingga kami salah satu BUMN itu mendukung untuk percepatan dan untuk perluasan daripada vaksinasi gotong royong, sehingga bukan untuk melakukan komersialisasi," kata Sekretaris Perusahaan Kimia Farma Ganti Winarno dalam konferensi pers, Minggu (11/7/2021).

Direktur Utama PT Kimia Farma Tbk, Verdi Budidarmo menjelaskan pada tahap awal program ini baru menyentuh 6 kota dengan 8 klinik. Namun secara perlahan KF akan memperluas jangkauan itu, termasuk ke pusat-pusat perbelanjaan di kota-kota besar.

2. Tuai Kritik

Dalam perjalanannya upaya pemerintah untuk menggapai kekebalan komunal atau herd immunity melalui vaksinasi gotong royong individu alias vaksin berbayar menuai pro kontra. Sejumlah tokoh pun bersuara terkait program vaksin Kimia Farma.

Di satu sisi, terdapat Ekonom Senior Faisal Basri mengkritik keras kebijakan vaksinasi berbayar tersebut. Menurutnya, hal tersebut merupakan tindakan biadab karena membiarkan BUMN berbisnis.

"Rakyat disuruh gotong royong, untuk mempercepat herd immunity, BUMN dibiarkan berbisnis, ini kan biadab. Apalagi kata paling pantas untuk itu," katanya kepada detikcom.

Selain itu YLK juga angkat bicara. Senada dengan Faisal Basri, Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mengatakan program vaksinasi berbayar tidak etis dan harus ditolak. Apalagi itu dilakukan di tengah pandemi COVID-19.

"Vaksin berbayar itu tidak etis di tengah pandemi yang sedang mengganas. Oleh karena itu, vaksin berbayar harus ditolak," katanya dalam keterangan tertulis.

Tidak berhenti di sana, ada Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menyoroti adanya vaksin berbayar yang disediakan oleh PT Kimia Farma Tbk. Dia khawatir akan terjadi komersialisasi yang menguntungkan pihak-pihak tertentu.

"Setiap transaksi jual beli dalam proses ekonomi berpotensi menyebabkan terjadinya komersialisasi oleh produsen yang memproduksi vaksin dan pemerintah sebagai pembuat regulasi, terhadap konsumen dalam hal ini rakyat termasuk buruh yang menerima vaksin," ujar Presiden KSPI Said Iqbal dalam keterangan tertulis dikutip detikcom, Senin (12/7/2021).

Namun di sisi lain ada pula pihak yang mendukung adanya program vaksin Kimia Farma ini. Salah satunya ada pengacara kondang Hotman Paris Hutapea mendukung langkah pemerintah yang membuka layanan vaksin berbayar melalui klinik PT Kimia Farma Tbk. Menurut Hotman, program vaksin berbayar ini sudah dilakukan di Amerika Serikat (AS) dan berhasil menurunkan tingkat pandemi COVID-19. Dengan begitu vaksinasi COVID-19 bisa dengan mudah didapat masyarakat di tempat yang telah ditentukan.

"Inilah yang sudah lama Hotman teriak-teriak dari tahun lalu, Hotman sudah teriak-teriak agar segera dibuka vaksin mandiri khususnya agar dibuka kesempatan bagi perusahaan swasta untuk mengimpor vaksin ke Indonesia," kata Hotman Paris dikutip dari Instagram resminya, Minggu (11/7/2021).

Selain Hotman, ada juga Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Gerindra Andre Rosiade memberikan sejumlah catatan terkait pelaksanaan Vaksinasi Gotong Royong (VGR) individu yang dijalankan BUMN farmasi melalui kelompok usaha PT Kimia Farma Tbk.
Menurut Andre, kebijakan vaksin berbayar Kimia Farma individual tersebut bisa mempercepat program vaksinasi dan pencapaian herd immunity. Meski begitu, ia mengharapkan sebenarnya vaksinasi bisa didapatkan secara gratis.

"Perluasan program vaksinasi gotong royong ini untuk percepatan herd immunity sebagaimana yang telah diarahkan oleh WHO untuk percepatan di semua segmen usia dan daerah," kata Andre dalam keterangannya, Senin, (12/7).

3. Program Vaksin Kimia Farma Akhirnya Ditunda

Pada Akhirnya pihak Kimia Farma memutuskan untuk menunda layanan Vaksinasi Gotong Royong Individu tersebut. Karena berbagai polemik ada ada, Kimia Farma memutuskan untuk memperpanjang sosialisasi mengenai vaksin COVID-19 berbayar ini.

"Besarnya animo serta banyaknya pertanyaan yang masuk membuat Manajemen memutuskan untuk memperpanjang masa sosialisasi Vaksinasi Gotong Royong Individu serta pengaturan pendaftaran calon peserta," kata Sekretaris Kimia Farma Ganti Winarno Putro, dalam keterangannya, Senin (12/7/2021).

Untuk jadwal selanjutnya, pihak Kimia Farma masih belum bisa mengatakan jadwal pastinya. Dikatakan bahwa perusahaan akan memberikan informasi lebih lanjut terkait vaksin gotong royong individu tersebut.

"Akan segera kami informasikan lebih lanjut," ujarnya.

Sebagai informasi, Kimia Farma sebagai bagian dari Holding BUMN Farmasi telah mengumumkan akan menyediakan vaksin COVID-19 dosis pertama dan kedua secara berbayar mulai hari ini 12 Juni 2021.

Sedangkan untuk tarif dari vaksin Kimia Farma tersebut sebesar Rp 321.660 untuk satu dosis dan ditambah dengan tarif pelayanan vaksinasi Rp 117.910. Maka setiap satu dosis menyuntikan vaksin dikenakan biaya Rp 439.570. Total kapasitas pelayanan VGR individu dari 8 klinik ini sebanyak 1.700 peserta per hari.

(fdl/fdl)