Sederet Keluhan Tukang Service HP yang Sampai Nekat Turun ke Jalan

ADVERTISEMENT

Sederet Keluhan Tukang Service HP yang Sampai Nekat Turun ke Jalan

Siti Fatimah - detikFinance
Rabu, 14 Jul 2021 21:30 WIB
Mall PGC Cililitan, Jakarta, ditutup imbas penerapakn PPKM Darurat. Hasilnya, para penyedia jasa servis HP sampai turun ke jalan.
Foto: Rifkianto Nugroho/detikcom
Jakarta -

Ada penampakan tak biasa di Pusat Grosir Cililitan (PGC), Jakarta Timur. Sejumlah teknisi perbaikan handphone menawarkan jasanya di pinggir jalan. Hal itu dilakukan sejak pemberlakuan PPKM Darurat.

Mereka menawarkan jasa service handphone ke pengguna jalan dengan menggunakan sterofoam. Sterofoam itu bertuliskan "Jual Beli HP, Service HP" atau beberapa juga menuliskan kata-kata yang menarik perhatian seperti "Service HP Butuh Nasi" dan "Service HP Bisa Ditunggu Kami Lapar".

Berikut beberapa fakta yang terjadi pada tukang service HP di jalanan:

1. 'Dikejar-kejar' Petugas

Sebelum turun ke jalan, teknisi service HP ini bekerja di ruangan AC. Namun untuk bertahan di tengah pandemi, mereka pun berinisiatif untuk menawarkan jasa mereka di trotoar jalanan. Kegiatan mereka nampaknya mengundang kerumunan dan sesekali membuat jalan raya tersendat.

Salah satu teknisi, Asep mengaku, tak jarang ia 'kejar-kejaran' dengan petugas. Saat petugas menyisir jalanan, dia membereskan lapaknya dan begitu petugas pergi dia pun menggelar kembali.

"Tiga kali kita diusir petugas, kejar-kejaran. Tadi pagi sama Satpol PP, terus ada petugas polisi, yang ketiga dari pengelola PGC," kata Asep kepada detikcom, Rabu (14/7/2021).

"Iya tadi ada petugas, kita di minta buat jaga jaraknya. Gara-gara berkerumun jadi dibubarkan. Kemarin juga sama, cuman titipnya jaga jarak aja, pas ada petugas kita beres-beres," lanjutnya.

2. Tak Sanggup Bayar Sewa-Listrik

Teknisi lain mengatakan, pandemi membuat mereka tak mampu membayar biaya sewa dan listrik. Biasanya sebelum pandemi, ia mendapatkan omset hingga Rp 2 juta. Namun saat ini hanya mencukupi kebutuhan makan saja bersama keluarganya.

Ditambah adanya PPKM Darurat yang membuat lapak mereka kian sepi pengunjung.

"Berat, ini kondisi terberat selama 21 tahun saya bekerja sebagai teknisi handphone. Kalau saya bujang enak, ini kan ada anak istri nunggu di rumah. Rasanya gimana, anak nangis, belum makan apa-apa. Kita begini juga karena ada tanggung jawab," imbuhnya.

3. Toko Tutup Tapi Harus Tetap Bayar Sewa

Meski toko tutup selama PPKM Darurat, namun tak membuat biaya sewa dan listrik dikurangi atau mendapat keringanan. Teknisi service handphone yang turun di jalan mengaku, ia harus tetap membayar sewa termasuk jika 'kena cas' saat terlambat membayar sebanyak 20%.

Kewajiban tersebut menambah beban para teknisi yang penghasilannya selama pandemi berkurang drastis. Dia mengatakan, untuk biaya sewa toko mencapai Rp11 juta per tahun sedangkan listrik Rp4,8 juta.

"Orang kita nggak buka toko tapi disuruh bayar. (Kalau buka pun) yang datang jarang. Kita mau masuk ambil barang (peralatan service) harus udah bayar listrik," ungkapnya.

4. Tak Dapat Bantuan Pemerintah

Para teknisi service handphone mengaku tak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah. Juanda, teknisi lain meminta agar pemerintah turut memperhatikan pekerja yang terdampak dalam penutupan mal selama PPKM Darurat ini dijalankan.

"Harusnya kan pemerintah cari jalan keluar juga. Kata saya sih lanjut PPKM tapi perhatiin juga mereka-mereka ini. Kalau sekarang ditutup tapi nggak dikasih jaminan kasihan juga, mereka diem di rumah juga kan nggak dapat penghasilan," kata Juanda.

(dna/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT