Miris... di Tengah Pandemi, yang Kaya Tambah Kaya yang Miskin Tambah Miskin

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Jumat, 16 Jul 2021 13:38 WIB
Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data kemiskinan dan ketimpangan teranyar. Angka kemiskinan bertambah, dan tingkat ketimpangan (gini ratio) bergerak stagnan.
Miris... Saat Pandemi, yang Kaya Tambah Kaya yang Miskin Tambah Miskin

Dari data BPS Gini Ratio atau ketimpangan Indonesia pada Maret 0,384 atau naik dibandingkan periode Maret 2020 yang 0,381.

Namun di sisi lain BPS juga mencatat ada peningkatan pendapatan untuk golongan menengah atas. Kepala BPS Margo Yuwono menyebut jika ada kenaikan penerimaan pajak PPh 14,41% pada kuartal I 2021 dibandingkan kuartal III 2020.

Dari data BPS orang-orang menengah ke atas itu memilih untuk menyimpan atau menabung uangnya. Komposisinya tabungan 3,19%, ekuitas 54,83% dan reksa dana 52,78%.

"Peningkatan pendapatannya tidak dibelanjakan, tapi diinvestasikan di finansial tidak untuk konsumsi," kata Margo.

Memang jika dilihat dari data Penjamin Simpanan (LPS) jumlah simpanan bank umum hingga April 2021 sebesar Rp 6.877 triliun tumbuh 10,79%.

Untuk simpanan nasabah kaya tercatat dengan saldo di atas Rp 5 miliar tumbuh 14,68% atau naik Rp 432,96 triliun. Lalu dengan saldo Rp 2 miliar Rp 5 miliar tumbuh 7,98% naik Rp 212,58 triliun.

Kemudian dari data Survei Konsumen Bank Indonesia di kategori Indeks Kondisi EkonomI Saat Ini masyarakat masih pesimis dengan kondisi perekonomian nasional. Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) 2021 90,3 naik dari 86,8 pada bulan sebelumnya.

Kenaikan IKE disebabkan oleh kenaikan seluruh komponen pembentuknya seperti Indeks Penghasilan Saat Ini yang naik 4,2 poin menjadi 99,5. Lalu secara spasial, IKE terpantau menguat di 12 kota dengan kenaikan tertinggi terjadi di Banten 16,5 poin, Bandar Lampung 15,3 poin dan Mataram 15,1 poin.

BI juga mencatat persepsi konsumen terhadap perbaikan penghasilan mulai membaik. Indeks Penghasilan Saat Ini pada Juni 2021 mengalami peningkatan pada seluruh kategori pengeluaran.

Ekonom Senior Faisal Basri turut mengutarakan hal serupa dalam akun media sosialnya. Dia mengatakan, pandemi membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia merosot tetapi jumlah orang dengan kekayaan di atas US$ 1 juta meningkat tajam.

"Pandemi mengakibatkan perekonomian Indonesia merosot (kontraksi). Namun, jumlah orang dewasa dengan kekayaan di atas USD1 juta naik tajam sebesar 61,7%, dari 106.215 orang tahun 2019 menjadi 171.740 orang," kata Faisal dalam akun Twitternya.

Lebih lanjut, mengintip laporan Credit Suisse yang dikutip dari CNBCIndonesia, jumlah orang dengan kekayaan di atas US$ 1 juta atau setara dengan Rp 14,49 miliar (kurs dollar Rp 14.486) di Indonesia ada sebanyak 172.000 orang. Bertambah 62,3% dibandingkan tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).

Jika dibandingkan dengan seluruh populasi jumlah jutawan (dalam dolar Amerika Serikat, bukan rupiah) Indonesia hanya 0,1% dan menempati posisi kedua dari 27 negara yang dijadikan sampel. Kondisi tersebut tidak berubah dibandingkan 2019.

Menurut laporan tersebut, jumlah orang kaya di Tanah Air bertambah karena kenaikan harga aset. Salah satunya didorong oleh suku bunga rendah yang mendorong harga aset di pasar keuangan.


(kil/fdl)