IMF Pangkas Proyeksi Ekonomi, RI Sanggup Kejar Target?

Siti Fatimah - detikFinance
Rabu, 28 Jul 2021 15:05 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) kembali merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2021. Khusus Indonesia, IMF memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 3,9% tahun 2021.

Ramalan itu lebih rendah 40 basis points (bps) jika dibandingkan dengan perkiraan edisi April 2021 yang 4,3%. Meski sudah dipangkas, para ekonom menilai, Indonesia masih akan sulit untuk mencapai proyeksi tersebut.

Direktur Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah mengatakan, sangat wajar IMF menurunkan proyeksi ekonomi nasional Indonesia. Hal tersebut berkenaan dengan kondisi pandemi dengan dampak yang dibawa bagi ekonomi.

"Saya kira sudah sewajarnya IMF menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 3.9%. Adanya second wave yang memaksa PPKM darurat sekarang ini sudah pasti berdampak negatif terhadap ekonomi. Konsumsi jelas akan menurun," kata Piter kepada detikcom, Rabu (28/7/2021).

CORE sendiri memiliki proyeksi untuk tahun 2021 berada di bawah proyeksi IMF yaitu 2,5% sampai 3,5%. "Ini sudah dinilai sangat optimistic. Karena kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada triwulan 2, 3 dan 4 masih akan positif walaupun dihantam second wave. Tetapi secara full year tidak akan lebih dari 3.5%," ujarnya.

Senada dengan itu, Director Political Economy & Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan mengatakan, proyeksi IMF hampir mustahil dapat dicapai oleh pemerintah. Apalagi di tengah PPKM yang dinilainya berpengaruh pada tingkat konsumsi rumah tangga dan faktor lain.

"Saya rasa hampir mustahil. Perkiraan ini (IMF 3,9%) masih terlalu tinggi. IMF sudah seringkali revisi pertumbuhan ekonomi Indonesia ke bawah, artinya perkiraannya sering kali meleset jauh," kata Anthony.

"Jadi, proyeksi IMF sudah tidak ada artinya lagi, tidak bisa dijadikan pegangan. Sangat amatir sekali," sambungnya.

Proyeksi pertumbuhan ekonomi yang dibuat PEPS justru diperkirakan hanya menyentuh 1,2% untuk tahun 2021. "Ya saya perkirakan -1% hingga +1,2%," pungkasnya.

(dna/dna)