Pandemi Bikin Bisnis Sepi? 3 Tips Ini Mungkin Bisa Jadi Obatnya

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Kamis, 29 Jul 2021 10:07 WIB
Jakarta -

Di tengah pandemi, banyak pelaku bisnis mengaku usahanya mulai kurang menghasilkan alias bisnis sepi. Di satu sisi pembatasan banyak dilakukan yang membuat gerak pengusaha berkurang, di sisi lain daya beli masyarakat juga anjlok.

Konsultan bisnis Yanuar Andrianto membagikan 3 tips yang mungkin bisa jadi obat bila usaha mulai kurang menghasilkan. Menurutnya, yang pertama harus dilakukan adalah pengusaha mulai mengevaluasi layanan bisnis dengan situasi yang terjadi.

Dia mencontohkan ada strategi jemput bola dari perusahaan restoran besar di Indonesia yang menyesuaikan layanannya di tengah pandemi.

"Kita mesti pahami situasi bisnis dengan sesuaikan layanan kita. Misalnya saja Pizza Hut, orang mulai makan di rumah aja, jarang yang ke tempat mereka. Jadi mereka menjualnya dengan box pinggir jalan, sales force-nya di dekat perumahan gitu malah ya," ungkap Yanuar dalam sesi d'Mentor detikcom.

"Mereka melihat layanannya sekarang harus jemput bola, meskipun mereka juga sudah mulai aplikasi," katanya.

Kemudian tips yang kedua adalah mengevaluasi produk, apakah produk yang dijual masih relevan di tengah pandemi ini. Bila memang produk itu tidak relevan sudah seharusnya pengusaha melakukan penyesuaian.

"Nah kedua produknya, misal sudah kita lakukan penyesuaian pada layanan kok masih nggak berkembang juga, berarti produknya bermasalah," kata Yanuar.

Sebagai contoh, saat sesi live d'Mentor dia mendapatkan pertanyaan dari seorang pedagang perawatan burung yang fokus menawarkan perawatan untuk burung kompetisi.

Namun, karena event kompetisi burung sudah jarang saat pandemi, maka Yanuar menawarkan untuk mengganti produk yang dijual, meskipun masih berkaitan dengan peralatan hobi burung.

Tips yang terakhir adalah mengganti keseluruhan model bisnis, opsi ini dilakukan bila dua evaluasi awal sebelumnya sudah dilakukan namun bisnis tak kunjung berkembang.

"Kalau masih bermasalah juga berarti kita harus ubah model bisnis yang bisa menyesuaikan kondisi sekarang. Misalkan, kalau kita jual barang mewah kan nggak laku, maka harus jual bisnis kesehatan atau hobi," ungkap Yanuar.

"Dari 3 tips ini harus hati-hati, jangan salah mengartikan masalah, misalnya obatnya cuma layanan yang salah produknya yang diganti," lanjutnya.

Dia mengatakan tak masalah untuk menahan bisnis utama dan beralih mencoba bisnis baru. Namanya usaha, pendapatan harus tetap ada. "Bisnis yang lama bisa ditahan dulu, namanya berusaha kan butuh income," katanya.

(hal/ang)