Begini Cara Swasta Tekan Perubahan Iklim

Tim detikcom - detikFinance
Sabtu, 31 Jul 2021 11:38 WIB
Young woman holding a globe with a face mask on it - Conceptual Coronavirus Covid-19 virus pandemic - Heart shape is drawn on the mask.
Foto: Getty Images/iStockphoto/FilippoBacci
Jakarta -

Ada ancaman yang lebih ngeri dari pandemi COVID-19. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebutkan ancaman itu adalah climate change atau perubahan iklim yang tak bisa dihindari oleh semua negara di dunia.

Program Studi (Prodi) Digital Business Technology, Fakultas STEM Prasetiya Mulya (Prasmul) terlibat dalam penelitian kolaboratif internasional dalam program Interdisciplinary Approach Towards Fostering Collaborative Innovation in Food Waste Management (IN2FOOD) yang didukung oleh Erasmus+ the European Union untuk menyelesaikan masalah food waste.

Food waste atau sampah makanan berdampak 10% pada konsumsi energi dunia dan berdampak buruk pada lingkungan yang mengakibatkan perubahan iklim. Pengendalian sampah makanan sendiri salah satunya dapat diselesaikan melalui pemahaman, perubahan perilaku konsumsi dan inovasi praktis yang mendukung.

"Selain membangun pemahaman baru pada masyarakat tentang food waste, inovasi teknologi tetap diperlukan untuk pengelolaan sampah makanan yang lebih efisien melalui pengembangan aplikasi maupun penerapan sensor. Ini penting, apalagi di Jakarta sendiri 58% dari 7500 ton sampah per hari nya didominasi limbah makanan" tutur Stevanus Wisnu Wijaya, Direktur Riset dan Inovasi Universitas Prasetiya Mulya dan Task Manager pada program IN2FOOD Prasmul.

Mengingat pentingnya pengelolaan sampah makanan bagi lingkungan terutama di Indonesia, Prodi Digital Business Technology STEM Prasmul, berinisiatif untuk melanjutkan menjalankan program kolaborasi internasional ini dan memasukkan pengembangan teknologi pengelolaan food waste ke dalam kurikulum serta progam kemahasiswaan lainnya seperti international summer school, dan international student competition.

"Melalui kerjasama internasional ini, kita bisa bergerak cepat melakukan modernisasi kurikulum agar mahasiswa nantinya dapat menjawab masalah food waste yang ke depannya akan semakin pelik melalui pemanfaatan teknologi digital. Penyesuaian kurikulum ini juga sudah didukung oleh para pakar dari Tampere University, Finlandia, Ghent University, Belgia dan Hotelschool The Hague, Belanda" jelas Permata Nur selaku Kepala Prodi Digital Business Technology.

Inisiatif ini diharapkan mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya memiliki kemampuan akademis dan jaringan internasional, namun juga memiliki kontribusi pada masyarakat dan lingkungan ke depannya.

(fdl/fdl)