Aprisindo Minta Kejelasan Waktu Karantina Kulit Sepatu

Aprisindo Minta Kejelasan Waktu Karantina Kulit Sepatu

- detikFinance
Senin, 27 Mar 2006 19:07 WIB
Jakarta - Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) meminta Departemen Pertanian (Deptan) untuk memberikan kejelasan waktu karantina kulit untuk kebutuhan industri sepatu.Pasalnya, ketidakjelasan lamanya karantina impor kulit telah membuat kalangan industri sepatu nasional mengalami kendala dalam merebut peluang ekspor di Uni Eropa. Hal ini terkait dengan penerapan bea masuk anti dumping terhadap upper kulit dari Cina dan Vietnam.Demikian diungkapkan oleh Ketua Umum Asprindo Harijanto, disela kunjungan kerja Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ke pabrik PT Panarub Industry, produsen sepatu merek Adidas Specs, Jalan Raya Mauk Tangerang, Senin (27/3/2006).Harijanto mengaku, pihaknya tidak keberatan apabila dikenakan karantina daging kulit yang didatangkan dari luar negeri. Namun yang jadi masalah Deptan tidak pernah melakukan standarisasi waktu dan kualifikasi kulit seperti apa yang perlu dikarantina.Dicontohkan, selama ini jaket kulit tidak perlu dikarantina. "Artinya sudah aman, padahal itu kulit dari luar negeri, berarti harusnya jaket kulit dikarantina. Tapi kita minta kepastian hari dan waktu untuk karantina karena selama ini bisa satu atau tiga bulan," papar Harijanto.Menurutnya, akibat ketidakjelasan lamanya proses karantina ini, telah membuat pengusaha yang membutuhkan kulit dalam waktu cepat untuk memenuhi ordernya. Akibatnya, mau tidak mau pengusaha melakukan KKN dengan oknum karantina Deptan."Oke kalau dikarantina kita minta kepastian berapa hari karena tidak ada kepastiannya," katanya.Oleh karena itu, Aprisindo meminta Menteri Pertanian (Mentan) segera melakukan kepastian lamanya karantina maksimum satu minggu, karena terkait dengan cashflow perusahaan.Harijanto membeberkan, jika satu perusahaan saja mengimpor kulit satu juta square feet dengan harga US$ 2 juta, maka pengusaha harus menunggu satu bulan agar kulit bisa dipotong."Bisa dibayangkan potensi kerugiannya karena harus menghitung biaya bunga yang dua kali lipat dibanding negara pesaing ekspor sepatu," ujarnya.Peluang meraih ekspor di Eropa, lanjut Harijanto, sangat besar mencapai US$ 3,5 miliar, berdasarkan penghitungan total ekspor Cina dan Vietnam ke Uni Eropa.Pada tahun lalu realisasi ekspor mencapai US$ 1,5 miliar dan diharapkan tahun ini mencapai US$ 2,5-3 miliar.Harijanto meluruskan pemberitaan selama ini, bahwa Reebok dan Nike kembali memproduksi sepatunya ke Indonesia, karena selama ini kedua merek itu tidak pernah pindah.Yang benar, ungkap Harijanto, yang kembali memproduksi sepatu ke Indonesia adalah Adidas, Timberland, Fuma dan Lacoste. Pada tahun 1996 Indonesia merupakan industri sepatu terbesar kedua setelah Cina.Hadijanto memaparkan, dengan investasi US$ 50 juta, industri sepatu bisa menyerap 5.000 tenaga kerja dengan produksi 5 juta pasang sepatu setahunnya. (ir/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads