Kelamaan WFH Bisa Ngaruh ke Ekonomi Negara Lho, Ini Buktinya

Aulia Damayanti - detikFinance
Selasa, 03 Agu 2021 09:57 WIB
Smiling man using laptop while drinking coffee and eating waffle in the living room.
Foto: Getty Images/iStockphoto/Drazen Zigic
Jakarta -

Beberapa pekerja di Amerika Serikat (AS) ada yang mulai kembali bekerja di kantor, meski sebagian perusahaan masih enggan mempekerjakan karyawannya ke kantor. Ternyata kekosongan kantor mempengaruhi ekonomi negara secara besar-besaran.

Dikutip dari CNN, Selasa (3/8/2021) Selama orang bekerja di rumah atau work from home (WFH), transportasi mengalami penurunan pendapatan dari pekerja yang biasa menggunakan itu untuk aktivitasnya. Kemudian, kafe kopi di pinggir-pinggir perkantoran juga kehilangan penghasilannya yang biasanya mengandalkan pendapatan dari karyawan.

Ekonom dari Goldman Sachs (GS), mengatakan transportasi dan usaha kafe kopi merupakan bagian kegiatan ekonomi yang penting dalam peningkatan konsumsi AS. Menurut Biro Statistik Tenaga Kerja, pada tahun 2020, jumlah orang yang WFH hampir dua kali lipat, menjadi 42% dari tenaga kerja AS.

New York sebagai contoh salah satu kota yang paling sibuk kini, jumlah penumpang kereta bawah tanah masih jauh sebelum pandemi. Sebelum COVID-19 pendapatan kereta bawah tanah hampir US$ 17 miliar Namun, selama pandemi prediksi pendapatan juga telah dipangkas.

Bisnis lain yang sering dikunjungi para pekerja dalam perjalanan mereka ke kantor juga mengalami kesulitan. Seperti raksasa kopi, Starbucks jumlah pelanggannya anjlok dan mengurangi keuntungan perusahaan.

Tetapi, sejumlah perusahaan seperti Apple (AAPL) dan Google yang berencana untuk kembali bekerja di bulan September telah ditunda. Mengingat ancaman penularan COVID-19 varian delta yang lebih menular.

Menyusul varian delta yang lebih menular, Centers for Disease Control and Prevention AS mendesak orang AS meski sudah divaksinasi diharap tetap memakai masker di dalam ruangan.



Simak Video "Mata Merana Karena WFH"
[Gambas:Video 20detik]
(ang/ang)