Airlangga Dorong Program Pertanian untuk Penguatan Ketahanan Pangan

Inkana Putri - detikFinance
Rabu, 04 Agu 2021 16:52 WIB
Airlangga Hartarto
Foto: Kemenko Perekonomian
Jakarta -

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto optimis ekonomi Indonesia dapat kembali pulih. Hal ini terlihat dari realisasi pertumbuhan pada Q1-2021 yang tercatat -0,74% (yoy), membaik dibandingkan triwulan sebelumnya.

Dari sisi lapangan usaha, tercatat 64,56% ekonomi Indonesia berasal dari sektor industri, pertanian, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan. Dalam hal ini, sektor pertanian tetap tumbuh positif dengan PDB sebesar 1,75% tahun 2020 dan sebesar 2,95% di Triwulan I 2021.

Namun, kemiskinan, ketimpangan, pengangguran dan ketahanan pangan perlu diantisipasi. Terkait hal ini, pemerintah telah menyiapkan berbagai program untuk menjawab tantangan akibat pandemi. Salah satunya berupa pembangunan Food Estate, Kemitraan Hortikultura Berorientasi Ekspor, dan Program Peremajaan Sawit Rakyat.

"Program-program di sektor pertanian terus dijalankan untuk penguatan ketahanan pangan dan peningkatan kesejahteraan petani dan nelayan," ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (4/8/2021).

Dalam acara webinar 'Food and Agriculture Summit 2021' pada Selasa (3/8), Airlangga menjelaskan untuk penguatan sistem pangan nasional, presiden telah menyiapkan proyek jangka panjang food estate di Kalimantan Tengah dan Sumatera Utara.

Adapun pengembangan food estate dilaksanakan berbasis korporasi. Dengan demikian, kelompok petani, baik koperasi atau gapoktan akan lebih mudah mendapat akses pendampingan, pembiayaan, dan fasilitas yang disediakan pemerintah bersama BUMN maupun swasta.

"Berbagai pembatasan selama pandemi dan peringatan dini FAO tentang krisis pangan, telah meningkatkan awareness kita akan pentingnya ketahanan pangan pada jangka panjang," paparnya.

Model korporasi bagi petani maupun nelayan, menurut Airlangga, akan menjadikan proses bisnis semakin modern dari hulu ke hilir secara utuh. Misalnya, dari hulu seperti pencanangan One Village One Product atau One Pesantren One Product. Sementara tahap pengolahannya seperti pendampingan penerapan teknologi, sertifikasi.

Selanjutnya, pada tahap hilir seperti pembangunan sistem logistik terpadu serta cold storage. Hal ini akan membuat petani mendapatkan hasil yang optimal baik on farm maupun off farm.

Di sisi lain, Program Kemitraan Hortikultura Berorientasi Ekspor berdampak terhadap peningkatan pendapatan petani. Dalam model ini, ada peran perusahaan mitra yang menjadi off-taker sekaligus penyedia bibit unggul, pendampingan, hingga pengepakan yang menarik.

Guna mendukung program tersebut, pemerintah memberikan fasilitas fiskal, serta kemudahan ekspor. Dengan demikian, daya saing ekspor produk hortikultura menjadi meningkat berkali lipat. Terlebih lagi, Indonesia memiliki banyak komoditas exotic fruit yang tidak dimiliki negara lain, dan saat ini demand ekspornya meningkat.

Sementara dalam Program Peremajaan Sawit Rakyat, pemerintah turut meningkatkan produktivitas tanaman perkebunan kelapa sawit. Pemerintah juga berupaya menjaga luasan lahan perkebunan kelapa sawit agar dapat dimanfaatkan secara optimal, sekaligus untuk menyelesaikan masalah legalitas lahan.

Adapun target PSR 2021 seluas 180.000 ha berpotensi dapat menyerap tenaga kerja petani swadaya 2,6 juta orang dan pekerja non pekebun 4,3 juta orang.

"Dari sisi kemudahan pembiayaan, Pemerintah telah memberikan kemudahan pembiayaan dalam skema KUR Klaster," pungkas Airlangga.

Sebagai informasi, acara webinar Food and Agriculture Summit 2021 'Stand Together Facing Food Crisis' digelar oleh CNBC Indonesia dan Himpunan Alumni IPB. Dalam acara ini, turut dihadiri oleh Anggota Badan Anggaran/DPR RI Netty Prasetiyani, Deputi Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Alam Bappenas Arifin Rudiyanto, Rektor IPB Arif Satria, Dewan Pakar Himpunan Alumni IPB Bustanul Arifin, dan Ketua Umum DPP Himpunan Alumni IPB R. Fathan Kamil.



Simak Video "Kerinduan Kader Golkar: Ingin Ketum Partai Jadi Presiden "
[Gambas:Video 20detik]
(ega/hns)