Ini 6 Poin Deklarasi Gotong Royong Kemnaker & Stakeholders Se-Jatim

Erika Dyah - detikFinance
Kamis, 05 Agu 2021 14:45 WIB
Kemnaker
Foto: Dok. Kemnaker
Jakarta -

Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah menandatangani Deklarasi Gotong Royong bersama stakeholder ketenagakerjaan se-Jawa Timur. Upaya ini dilakukan pihaknya agar Indonesia bisa menang menghadapi pandemi COVID-19.

Ida mengatakan spirit kolaborasi antara pemerintah, pengusaha, dan pekerja/buruh perlu secara terus menerus dikampanyekan dan digaungkan hingga tingkat daerah. Menurutnya, spirit kolaborasi ini bisa bantu mengatasi tantangan ketenagakerjaan dan bangkit dari dampak pandemi COVID-19 dengan berlandaskan semangat saling peduli dan optimis.

Untuk itu, lanjutnya, Kementerian Ketenagakerjaan bersama KADIN, APINDO, dan serikat pekerja/serikat buruh Jawa Timur melakukan Penandatanganan Komitmen Gotong Royong. Adapun kegiatan ini dilakukan di Museum Mpu Tantular Sidoarjo, Jawa Timur.

Dalam sambutannya, Ida menerangkan kunci utama menghadapi situasi pandemi COVID-19 adalah harus memiliki kepercayaan diri yang tinggi dan selalu optimistis. Selain itu, kreativitas dan inovasi juga harus terus dilakukan untuk dapat bangkit dari keterpurukan.

"Yang paling penting lagi adalah semua upaya ini tidak bisa dijalankan secara parsial, tapi harus dilakukan secara serentak, bersama-sama dengan melibatkan pengusaha dan pekerja sebagai tanggung jawab dan persoalan bersama," kata Ida dalam keterangan tertulis, Kamis (5/8/2021).

Ia pun mengharapkan kolaborasi dari dunia usaha dan serikat pekerja untuk aktif bahu-membahu dalam mempercepat pemulihan ekonomi nasional. Harapannya, kolaborasi simultan ini dapat mempercepat herd immunity pada seluruh rakyat Indonesia.

"Saya berharap, komitmen Gotong Royong ini dapat Memenangkan Indonesia. Kita belum kalah, dan kita tidak akan kalah. Indonesia Tangguh Indonesia Tumbuh," ungkapnya.

Ida menambahkan, selain pandemi COVID-19, terdapat juga tantangan disrupsi yang dihadapi masyarakat pekerja/buruh saat ini. Menurutnya, era otomasi yang datang lebih cepat menjadi tantangan tersendiri akibat tidak terbendungnya laju digitalisasi.

Meski demikian, ia mengatakan tantangan disrupsi ini dihadapi pekerja/buruh di seluruh dunia. Adapun tantangan ini paling berdampak pada golongan masyarakat termarjinal, pekerja/buruh berpendidikan, dan masyarakat dengan keterampilan rendah. Menurut Ida, golongan inilah yang akan menjadi korban pertama digitalisasi otomasi.

"Indonesia dengan mayoritas angkatan kerja yang masih minim pendidikan dan keterampilan harus mengantisipasi tantangan ini," ucapnya.

Selain itu, Ida juga mengungkap isi dari Deklarasi Gotong Royong yang ditandatangani pihaknya hari ini, antara lain.

  1. Menyelesaikan segala pertikaian dan konflik melalui dialog yang sehat dan kompromi yang adil.
  2. Menepis semua berita bohong terkait pandemi COVID-19 yang tidak berdasar pada kajian medis.
  3. Tetap mematuhi protokol kesehatan 5M pasca penerapan PPKM Darurat atau Level 1-4 dan masa-masa sesudahnya.
  4. Meniadakan pengumpulan massa yang berpotensi menyebarkan virus COVID-19, dan membawa semua bentuk perselisihan ke meja perundingan dengan kepala dingin dan bertanggung-jawab.
  5. Pemerintah mengupayakan langkah-langkah praktis dan strategis memperbaiki situasi industri dan ketenagakerjaan di seluruh Indonesia selama dan pasca-pandemi COVID-19.
  6. Saling mengingatkan khususnya dalam hal penegakan protokol kesehatan di lingkungan kerja.

(akn/hns)