Menkop Beberkan Bukti Kondisi UMKM Mulai Normal di Kuartal II-2021

Danang Sugianto - detikFinance
Kamis, 05 Agu 2021 20:14 WIB
Teten Masduki
Foto: Kemenkop UKM
Jakarta -

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengatakan kondisi UMKM di kuartal II-2021 sudah mulai normal. Tercermin juga pada pertumbuhan ekonomi yang baru saja dirilis yakni 7,07% secara year on year.

Teten menambahkan, digitalisasi mempunyai peranan penting dalam pemulihan ekonomi nasional serta mendorong UMKM untuk terus berdaya. Survei yang dilakukan Bank Dunia pada 2021 menyebut, 80% UMKM yang sudah masuk ekosistem digital mempunyai daya tahan yang lebih baik.

"Survei yang dilakukan asosiasi e-commerce Indonesia juga menyebutkan bahwa selama pandemi telah terjadi kenaikan penjualan e-Commerce sebesar 25%. Ini artinya masyarakat Indonesia terutama pelaku UKM telah keluar dari zona nyaman dan beradaptasi untuk bertahan. Namun, tantangan dan masalah dalam digitalisasi seperti kurangnya literasi digital serta akses pasar yang menjadi pekerjaan bersama yang perlu diselesaikan," ucapnya dalam acara webinar Kamis (5/8/2021).

Teten menambahkan survei Mandiri Institute pada 2021, kondisi UMKM pada kuartal kedua 2021 membaik. 85% responden menyebut kondisi usaha mulai berjalan normal pada kuartal II-2021. Lalu 22% UMKM yang tadinya berhenti beroperasi sudah kembali beroperasi.

Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia Sunarso mengungkapkan, ada 45 juta masyarakat termasuk pengusaha ultra mikro yang butuh pendanaan. Berdasarkan survei internal BRI, dari angka 45 juta tersebut baru 15 juta yang mendapatkan pelayanan dari lembaga keuangan.

"Jadi ada sekitar 5 juta yang meminjam dari rentenir dan 7 juta yang pinjam dari keluarga. Sisanya sama sekali belum mendapatkan layanan dari lembaga keuangan. Ini yang akan menjadi fokus BRI bagaimana mereka bisa mendapatkan pelayanan keuangan. Karena selama ini, banyak yang mengeluh sulit untuk mendapatkan pinjaman dari bank. Tapi ketika ditanya apakah sudah pernah mencoba pinjam ke bank, dijawab belum pernah," ujar Sunarso.

Karena itu, kata Sunarso, BRI tidak melakukan advokasi kepada pengusaha ultramikro dan juga UMKM yang memerlukan pembiayaan. Kata Sunarso, BRI melakukan edukasi antara lain bagaimana cara mengakses informasi, pasar dan juga permodalan.

Pendiri Warung Pintar Agung Bezharie Adinegoro mengatakan, masalah yang paling sering dihadapi warung tradisional adalah supply chain yang masih tradisional. Dia memberi contoh, apabila ada barang A yang lagi banyak dicari di pasar maka warung tradisional kesulitan untuk mendapatkan barang tersebut.

Akibatnya, warung bersedia mengambil barang tersebut dengan harga yang lebih mahal dan mengurangi margin mereka.

"Karena itu, Warung Pintar berusaha melakukan digitalisasi terhadap warung tradisional. Dalam satu tahun terakhir, keinginan penjual untuk melakukan digitalisasi cukup besar. Warung, distributor dan juga grosir banyak yang datang ke Warung Pintar untuk membantu beralih ke digital," kata Agung.

BPJS Ketenagakerjaan atau BPJamsostek juga berusaha membantu UMKM naik kelas dari sisi perlindungan tenaga kerja. Direktur Kepesertaan BPJamsostek Zainuddin mengatakan, usaha kecil, mikro dan informal termasuk kategori yang rentan apabila terjadi risiko. Karena itu, negara berusaha untuk melindungi mereka.

"45 persen UMKM berhenti karena masalah modal, di masa pandemi ini karena masalah kesehatan yaitu tingkat kematian tinggi. Apabila pemilik meninggal maka akan terjadi multiplier effect. Di sini, BPJamsostek ingin hadir untuk memberikan perlindungan bagi pengusaha kecil, mikro dan informal," jelas Zainuddin.

Zainuddin berharap UMKM bisa mendaftar menjadi peserta BPJamsostek sehingga mendapatkan perlindungan. Dia menjelaskan, UMKM yang ingin mendaftar tidak harus datang ke kantor BPJamsostek tetapi bisa melalui e-commerce. Pembayaran iuran juga bisa dilakukan secara daring.

(das/dna)