TDL Tak Naik, Defisit 2006 Mencapai 1 Persen

TDL Tak Naik, Defisit 2006 Mencapai 1 Persen

- detikFinance
Selasa, 28 Mar 2006 20:34 WIB
Jakarta - Gara-gara tarif dasar listrik (TDL) batal naik, defisit tahun ini diperkirakan akan membengkak. Defisit mencapai 1 persen atau melebihi target semula 0,7 persen.Hal tersebut disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati usai sidang kabinet di Istana Negara, Jakarta, Selasa (28/3/2006)."Dibatalkannya kenaikan TDL tentu menyebabkan kenaikan pada pengeluaran untuk subsidi bagi PLN sebesar Rp 10,3 triliun. Itu yang harus dialokasikan pada APBN Perubahan," ujar Sri Mulyani.Untuk menambah subsidi kepada PLN, pemerintah akan melakukan langkah-langkah penghematan, dimana Depkeu dan Bappenas akan menyeleksi beberapa pengeluaran pemerintah yang dianggap bukan prioritas dan kualitas programnya dinilai belum memadai untuk dilaksanakan."Dalam hal ini Presiden meminta kita untuk keluar dengan suatu alternatif detail, kira-kira berapa jumlah penghematan yang ingin ditargetkan berkisar Rp 10 triliun," ujarnya.Dengan demikian, Menkeu menambahkan, total anggaran dalam APBN 2006 tidak berubah, hanya mengalami realokasi anggaran saja."Secara total memang akan defisit, diperkirakan akan lebih besar dari 0,7 persen yang awalnya telah direncanakan sesuai dengan APBN. Tapi kita akan coba untuk tetap pada angka yang tidak membahayakan dari sisi pembiayaan," tambahnya.Defisit akan mencapai sekitar Rp 30-35 triliun atau bertambah sekitar Rp 8 triliun dari target semula. Jika ditambah dengan proyek-proyek yang diluncurkan ke tahun 2006, defisit memang akan lebih dari 1 persen."Pembiayaannya kalau pada angka itu mungkin relatif dapat diupayakan dari sumber-sumber yang ada tanpa menimbulkan tekanan makro yang signifikan namun kita harus terus melihat dari sisi pengeluaran dan penerimaan agar keseimbangan itu tetap terjaga," jelasnya.Sementara asumsi makro lainnya, pemerintah memperkirakan akan terjadi penurunan pertumbuhan ekonomi tahun ini dari 6,2 persen menjadi 5,9 persen. Sementara inflasi mencapai 9 persen. "Sebetulnya dari sisi seluruh pertumbuhan ekonomi terutama aggregate demand, konsumsi kita relatif masih ada kepercayaan walaupun kena inflasi cukup tinggi, tapi masih bisa tumbuh sekitar 3,5 persen," ujarnya. Menneg PPN/Ketua Bappenas Paskah Suzetta, selain subsidi untuk PLN, pemerintah juga harus menyiapkan anggaran untuk untuk biaya Subsidi Langsung Tunai (SLT) sebesar Rp 1,8 triliun, subsidi pupuk dan pangan, serta subsidi Otsus bagi Papua dan Aceh. "Ini yang menyebabkan defisit di APBN kita," ujar politisi Golkar ini.Mengenai kriteria penghematan anggaran, Paskah mengatakan proyek yang ditunda di antaranya pengadaan kendaraan bermotor, pembangunan gedung kantor baru, penyediaan tanah terutama untuk perkantoran dan pengadaan peralatan.Selain itu juga dilakukan penghematan terhadap perjalanan dinas, studi, kajian, penelitian, seminar, rapat kerja, lokakarya, rapat dinas dan kegiatan sejenis. (ddn/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads