Buruh Garmen di Kamboja Minta 'Bantuan Pandemi' ke Adidas-Nike

Siti Fatimah - detikFinance
Sabtu, 07 Agu 2021 22:31 WIB
Warga dalam Zona Merah Lockdown di Kamboja Terancam Kelaparan
Ilustrasi/Foto: ABC Australia
Jakarta -

Buruh pabrik garmen di Kamboja meminta beberapa perusahaan pakaian terbesar di dunia ikut membantu memulihkan upah dan tunjangan senilai jutaan dolar yang hilang imbas pandemi COVID-19. Sekitar 33 serikat pekerja dan kelompok buruh dari Kamboja telah menyurati merek-merek besar termasuk di dalamnya Adidas, H&M, Levi's, Nike, Puma, Target, GAP, C&A dan VF Corp terkait permintaan mereka itu

Mereka mengatakan total upah sebesar US$ 117 juta atau sekitar Rp 1,6 triliun hilang selama masa pembatasan ketat di Kamboja pada April dan Mei. Angka tersebut berdasarkan studi terhadap 114 pabrik yang dilakukan oleh serikat pekerja lokal.

Kelompok tersebut menghitung ada lebih dari 700.000 pekerja garmen Kamboja dengan total US$ 393 juta atau sekitar Rp 5,6 triliun dalam bentuk upah dan pesangon yang belum dibayar sejak awal pandemi. Pabrik-pabrik di sana gagal membayar pesangon sebagaimana yang diatur dalam Undang-undang perburuhan di negara tersebut.

Apalagi Kementerian Tenaga Kerja Kamboja telah menyarankan pabrik yang kesulitan ekonomi untuk tutup.

"Sementara pekerja tidak mendapatkan upah hidup yang layak, merek harus bertanggung jawab dan melakukan tindakan nyata," kata Tharo, dari Pusat Aliansi Buruh dan Hak Asasi Manusia dikutip dari Nikkei Asia, Sabtu (7/8/2021).

Sementara itu, merek-merek global telah perlahan pulih dan mendapatkan pendapatan yang cukup tinggi di tahun ini. Perusahaan Jerman itu berkomitmen untuk upah yang adil dan telah membantu pemasok utama mengamankan keuangan bank untuk mengatasi pandemi.

Sedangkan pihak perusahaan Puma mengatakan, surat serikat Kamboja tidak menyebutkan pabrik yang memasok Puma. Perusahaan dinilainya telah berusaha untuk menghindari pembatalan pesanan sebanyak mungkin.

"Di Kamboja, kami hanya membatalkan 0,2% dari pesanan pakaian kami. Jumlah pabrik tempat kami bekerja tidak berkurang selama pandemi," kata seorang juru bicara kepada Nikkei Asia.

Analis industri, Sheng Lu mengatakan, merek global menjadi lebih percaya diri karena ekonomi pulih dan program vaksinasi di AS dan Eropa berkembang. Namun demikian, kata dia, tantangan utama termasuk ketidakpastian dan peningkatan biaya, tetap ada.

"Semuanya menjadi lebih mahal tahun ini, mulai dari biaya pengiriman dan logistik, bahan baku tekstil hingga tenaga kerja. Kebangkitan tak terduga kasus COVID di musim panas 2021, terutama varian delta, telah menyebabkan ketidakpastian pasar baru," tutur Sheng.

(hns/hns)