Lebanon Makin Bak 'Neraka', BBM Langka-Listrik Mati Bikin Merana

Aulia Damayanti - detikFinance
Minggu, 15 Agu 2021 08:45 WIB
FILE- In this June 27, 2021 file photo, motorcycle drivers wait to get fuel at a gas station in a southern suburb of Beirut, Lebanon. A brawl at a gas station in northern Lebanon over scarce fuel supplies descended into deadly violence on Monday, Aug. 9, 2021, turning into a fight with knives and guns that killed one man, the countrys news agency said. (AP Photo/Hassan Ammar, File)
Foto: AP Photo/Hassan Ammar, File
Jakarta -

Lebanon makin merana akibat kelangkaan bahan bakar minyak (BBM). Kondisi ini semakin parah karena sejak 2019 negara itu telah mengalami krisis keuangan yang menyebabkan banyak orang jatuh ke lubang kemiskinan.

Langkanya BBM, menyebabkan aktivitas dari fasilitas umum terhenti. Termasuk toko roti, toko roti, bisnis, dan rumah sakit mengurangi operasi atau memutuskan untuk menutup operasinya.

Dikutip dari Reuters, Sabtu (14/8/2021) BBM yang selama ini menjadi penggerak aktivitas di Lebanon telah lenyap. Warga Lebanon terpaksa kepanasan di rumah saat musim panas, hidup tanpa AC hingga gelap tanpa lampu. Mereka juga membuang isi kulkas mobil yang dimiliki kini tanpa bensin.

Kondisi itupun dianggap sebagai kondisi yang lebih buruk dari perang saudara 30 tahun lalu tepatnya pada 1975-1990. "Selama perang saudara, bahkan dengan betapa mengerikannya itu, tidak ada pemadaman listrik," kata salah satu warga Hassan Khalife.

Kementerian Kelistrikan Lebanon mengatakan negaranya membutuhkan daya 3.000 megawatt untuk kebutuhan listrik secara penuh. Tetapi hanya memiliki sedikit bahan bakar dan hanya menghasilkan 750 megawatt listrik. Akibatnya dalam sehari masyarakat Lebanon hanya merasakan listrik satu hingga dua jam saja.

Krisis BBM ini menjadi lanjutan dari krisis keuangan di Lebanon yang telah terjadi sejak 2019. Krisis keuangan terjadi akibat korupsi dan salah urus selama beberapa dekade oleh elit penguasa yang gagal menemukan solusi saat dominasi masyakrakat Lebanon telah tenggelam dalam kemiskinan.

(zlf/zlf)