Rumah Jompo Laris Manis saat Pandemi, Pria Ini Jadi Orang Kaya Baru

Tim detikcom - detikFinance
Kamis, 19 Agu 2021 13:45 WIB
Keiichi Shibahara
Foto: Dok. AMVIS
Jakarta -

Rumah sakit di Jepang yang fokus merawat pasien Covid-19 membuat banyak orang lanjut usia pergi ke panti jompo. Salah satu panti jompo yang ramai adalah yang dioperasikan oleh Amvis yang terdaftar di Tokyo.

Saham Amvis pun meningkat lebih dari dua kali lipat sejak Agustus tahun lalu. Hal ini membuat pendiri dan CEO-nya, Keiichi Shibahara, kini menjadi miliarder. Pemegang saham terbesar Amvis dengan 77% tersebut sekarang memiliki kekayaan bersih sebesar US$ 1 miliar.

Amvis mengoperasikan 41 panti jompo swasta di seluruh Jepang, dengan 11 lainnya sedang dibangun.

"Amvis adalah perusahaan pertama di Jepang yang membangun model bisnis rumah sakit dan telah berkembang pesat menjadi perusahaan terkemuka di industri perawatan kesehatan rumah dan perawatan," kata Shibahara dalam pernyataan tertulis kepada Forbes, seperti dikutip Kamis (19/8/2021).

Shibahara mendirikan Amvis pada tahun 2013, setahun setelah pemerintah Jepang menerapkan kebijakan perawatan berbasis rumah, di mana orang-orang dengan penyakit kronis atau disabilitas didorong untuk menerima perawatan di rumah untuk mengurangi beban di rumah sakit. Menurut Japan Times, proporsi orang berusia 65 tahun atau lebih di Jepang adalah yang tertinggi di dunia, terhitung 28,7% dari total populasi negara tersebut.

"Di Jepang, perubahan kebijakan pemerintah memaksa orang dengan kanker stadium akhir atau mereka yang menggunakan ventilator untuk dipulangkan dari rumah sakit ke rumah mereka," jelas Shibahara.

"Situasi ini dipercepat oleh fakta bahwa rumah sakit sibuk menangani pasien yang terinfeksi Covid-19, dan pasien ini berbondong-bondong ke fasilitas yang dioperasikan oleh Amvis." lanjutnya.

Pada awal Agustus, karena peningkatan jumlah kasus Covid-19, Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga mengumumkan kebijakan untuk membatasi rawat inap pasien virus corona hanya pada kasus yang paling serius.

Untuk tahun keuangan yang berakhir September 2020, penjualan meningkat lebih dari 71% menjadi 9,2 miliar yen ($83 juta) dari tahun sebelumnya. Sementara laba meningkat dua kali lipat menjadi 1,2 miliar yen ($11 juta). Dari Oktober 2020 hingga 31 Maret tahun ini, penjualan dan laba masing-masing naik 66% dan 108% dibandingkan tahun sebelumnya.

Shibahara sendiri lahir di kota Nagoya, Jepang tengah dan lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Nagoya, Jepang. Dia melanjutkan studi di Sekolah Pascasarjana Kedokteran Universitas Kyoto, jurusan biologi molekuler.

Setelah lulus, Shibahara bekerja sebagai peneliti selama 20 tahun, dengan spesialisasi di bidang imunologi dan biologi molekuler. Dia berhenti dari penelitian dengan maksud berkontribusi lebih dekat dengan perawatan kesehatan medis.

Dia mulai bekerja sebagai wirausahawan sosial yang merevitalisasi rumah sakit dan panti jompo, mengumpulkan modal awal untuk mendirikan Amvis pada usia 48 tahun.

Shibahara adalah miliarder kesehatan langka di Jepang. Itaru Tanimura, pendiri penyedia layanan medis online M3, adalah satu-satunya miliarder Jepang lainnya yang memperoleh kekayaannya dari perawatan kesehatan.

Lihat juga video 'Kemenkes Yakinkan Lansia dengan Komorbid Tak Perlu Ragu Divaksin':

[Gambas:Video 20detik]



(eds/eds)