Orang Tajir Pendiri Microsoft Ungkap Ancaman Lebih Ngeri dari COVID-19

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Jumat, 20 Agu 2021 14:54 WIB
FILE - In this Feb. 1, 2019, file photo, Bill Gates smiles while being interviewed in Kirkland, Wash. Washington states richest residents, including Gates and Jeff Bezos, would pay a wealth tax on certain financial assets worth more than $1 billion under a proposed bill whose sponsor says she is seeking a fair and equitable tax code. Under the bill, starting Jan. 1, 2022, for taxes due in 2023, a 1% tax would be levied not on income, but on extraordinary assets ranging from cash, publicly traded options, futures contracts, and stocks and bonds. (AP Photo/Elaine Thompson, File)
Foto: AP/Elaine Thompson
Jakarta -

Miliarder dunia Bill Gates bicara soal ancaman yang lebih parah daripada pandemi COVID-19. Menurutnya, perubahan iklim akan menjadi masalah baru yang lebih mengancam umat manusia ke depannya.

"Memecahkan masalah perubahan iklim akan menjadi hal paling menakjubkan yang pernah dilakukan umat manusia," ungkap miliarder pendiri Microsoft itu, dilansir dari BBC, Jumat (20/8/2021).

Perubahan iklim diklaim dapat mengakibatkan 14 kematian per 100.000 populasi selama 40 tahun mendatang, ungkap Bill Gates dalam blog pribadinya.

Prediksinya makin ngeri, bila pertumbuhan emisi belum juga turun, tingkat kematian karena perubahan iklim makin besar. Bisa saja ada 73 kematian pada 100.000 orang dalam sebuah populasi. Hal ini menurutnya lebih berbahaya dibandingkan kematian yang disebabkan COVID-19.

"Pada 2060, perubahan iklim bisa sama mematikannya dengan COVID-19, dan pada 2100 bisa lima kali lebih mematikan dari COVID-19," ungkap Bill Gates.

Sementara itu ekonomi juga akan lebih rusak dalam satu atau dua dekade ke depan akibat dampak perubahan iklim. Diprediksi dampaknya ke ekonomi akan sama dengan dampak pandemi selama 10 tahun.

Fokusnya saat ini adalah bagaimana teknologi dapat membantu mengurangi dampak perubahan iklim. Sumber terbarukan seperti angin dan matahari dapat membantu mengurangi penggunaan listrik tidak ramah lingkungan, perkiraannya bisa sampai 30%.

Sementara itu sisa emisi karbon lainnya juga harus dikurangi dengan membuat teknologi ramah lingkungan pada industri baja, semen, sistem transportasi, produksi pupuk, dan lain-lain.

(hal/dna)