Derita Krisis di Afghanistan: Bahan Pokok Mahal-Uang Tunai Langka

Siti Fatimah - detikFinance
Senin, 23 Agu 2021 10:52 WIB
Jakarta -

Setelah Afghanistan diambil alih oleh Taliban, warga di sana menghadapi krisis ekonomi. Badai penutupan bank berpotensi besar terhadap kekurangan mata uang. Apalagi setelah adanya penangguhan pengiriman uang oleh perusahaan luar negeri yang menopang aliran utama pengiriman uang ke Afghanistan.

Dikutip dari The Guardian, Senin (23/8/2021) melaporkan ATM di kota-kota dikosongkan, bank-bank dan bursa keuangan utama Sarai Shahzada di Kabul, Ibukota Afghanistan masih ditutup. Negara itu menghadapi serangkaian guncangan ekonomi sejak Taliban merebut kekuasaan seminggu yang lalu.

Warga Afganistan akhirnya berhadapan dengan kenaikan harga barang-barang pokok saat mereka mulai kehabisan uang tunai. Terutama tanpa akses ke $9bn (£6.6bn) dalam cadangan bank sentral yang dibekukan, yang disimpan di AS dan dengan pengiriman dolar yang dibatalkan karena pemerintahan sebelumnya runtuh.

Selain itu, gaji untuk pegawai pemerintah tidak dibayar lalu antrean membludak di bank untuk menarik tabungan selama keruntuhan pemerintahan sebelumnya. Para ahli memperingatkan risiko hiperinflasi dan meningkatnya kesulitan di negara yang sudah miskin itu.

Warga Afghanistan di kota-kota tidak dapat memenuhi pembayaran sewa, sementara beberapa mengeluh karena tidak dapat menemukan makanan dan bahan bakar.

"Untuk saat ini saya ingin makanan untuk 3 anak saya," twit seorang anggota Hear Afghan Women.

"Kami makan roti hari ini dengan teh manis. Gas terlalu mahal, semua bank tutup, kekurangan bahan makanan lainnya di toko-toko Kabul, tidak dapat menemukan isi ulang ponsel dan juga takut akan nyawa kami," sambungnya.

Bahkan sebelum pengambilalihan Taliban, harga bahan pokok seperti roti telah meningkat tajam karena dampak pandemi. Masalah isi ulang ponsel juga penting karena banyak layanan pengiriman uang menggunakan pesan teks untuk memberi tahu pengguna mengenai layanan pengiriman uang.

Di antara mereka yang memperingatkan risiko melonjaknya inflasi adalah Ajmal Ahmady, mantan bankir sentral negara itu, yang telah meninggalkan Afghanistan pada pekan lalu. Dia menyarankan bahwa inflasi bisa segera mencapai dua digit.

Graeme Smith, seorang peneliti di Overseas Development Institute menjelaskan tentang krisis. Dia mengatakan Afghanistan telah dipertahankan oleh pesawat-pesawat penuh dolar AS yang mendarat di Kabul secara teratur, kadang-kadang setiap minggu.

"Jika Taliban tidak segera mendapatkan suntikan uang tunai untuk membela Afghanistan, saya pikir ada risiko nyata dari devaluasi mata uang yang membuat sulit untuk membeli roti di jalan-jalan Kabul untuk orang-orang biasa," kata Smith.

Ed Dolan dari thinktank Washington, Niskanen Center juga menggemakan pandangan itu minggu lalu. Aliran dolar ke Afghanistan melalui bantuan luar negeri dan pengiriman uang swasta tampaknya sebagian besar telah berhenti.

"Orang yang menyimpan tabungan dalam bentuk mata uang lokal, afghani, akan buru-buru menukarkannya dengan dolar. Jika mereka tidak dapat menemukan dolar, mereka akan mencoba menukar afghani mereka dengan barang. Harga akan didorong lebih jauh," ujarnya.