Cina Mulai Kesulitan Ekspor Benang Sutra
Senin, 03 Apr 2006 17:45 WIB
Jakarta - Sejak dua bulan terakhir, Cina mengalami kesulitan untuk mengekspor benang sutra. Hal ini karena daerah penghasil sutra Cina sedang mengalami musim dingin dan banjir sehingga mengalami kelangkaan."Sekarang ada kelangkaan benang sutera di Cina, pengrajin kita yang terlena dengan mengimpor sekarang kalang kabut, momentum ini sangat tepat untuk menggali potensi dalam negeri setelah Cina tidak lagi mau mengeskpornya ke seluruh negara," kata Direktur Sandang Industri Kecil Menengah (IKM) Departemen Perindustrian (Deperin), Yusran M Munaf.Hal itu diungkapkan Yusran, disela acara workshop masterplan pengembangan persutraan alam nasional di Gedung Depperin, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Senin (3/4/2006).Kesulitan ekspor sutra Cina ini dinilai sebagai momentum tepat untuk mengembangkan sutra nasional. Pasalnya, selama ini pengrajin sutra dalam negeri sangat terlena dan tergantung dari impor Cina yang harganya juga lebih murah."Kami sedang menyusun masterplan pengembangan persutraan alam nasional yang ditargetkan pertengahan April selesai," ujar Yusran.Setelah masterplan ini selesai, selanjutnya akan dibuat peraturan bersama antara Menteri Perindustrian, Menneg Koperasi dan UKM dan Menteri Kehutanan. Yusran menjelaskan, saat ini 10 kilogram (kg) kokon berkualitas dari Cina dapat menghasilkan 1,4-1,7 kg benang sutera. Sedangkan kokon dalam negeri dengan jumlah yang sama menghasilkan 0,8-1 kg benang sutera. Demikian pula harganya di Cina hanya Rp 170/kg sedangkan di Indonesia Rp 260 ribu/kg.Dibidang usaha budidaya ulat sutera produksi kokon nasional rata-rata per tahun sebesar 250 ton setara dengan 31.25 ton benang. Sedangkan kebutuhan kokon nasional pada saat ini sebanyak 8.750 ton per tahun sehingga masih dibutuhkan investasi dengan kapasitas 7.500-8.000 ton kokon per tahun. Ekspor kain tenun sutera Indonesia dari tahun 2000-2004 pertumbuhannya naik sebesar 566 persen dari nilai ekspor US$ 1,5 Juta tahun 2000 naik menjadi US$ 8,5 Juta di tahun 2004.Posisi industri pertenunan pada 2004 menghasilkan produk mencapai 6.180.000 meter dengan nilai produksi Rp 309 Miliar.
(ir/)











































