Menaker Ajak Negara ASEAN Lindungi Pekerja Perempuan Selama Pandemi 

Khoirul Anam - detikFinance
Minggu, 29 Agu 2021 15:34 WIB
Menaker Ida Fauziah
Foto: Kemnaker
Jakarta -

Kementerian Ketenagakerjaan menaruh perhatian terhadap isu perlindungan perempuan di kawasan ASEAN, khususnya di masa pandemi COVID-19. Adapun Menteri Ketenagakerjaan, Ida Fauziyah, mengajak negara-negara di ASEAN dalam langkah tersebut.

Ia menyatakan bahwa isu pelindungan perempuan, pemberdayaan perempuan, dan kesetaraan gender harus menjadi bagian tak terpisahkan dari upaya pemulihan kondisi sosial dan ekonomi dari krisis COVID-19. Hal ini juga merupakan langkah dalam mewujudkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Global (Sustainable Development Goals/SDGs) tentang kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan.

"Ini suatu cara yang tepat untuk meningkatkan peran dan pelindungan angkatan kerja perempuan dalam mendukung pemulihan ekonomi selama masa pandemi," Ida, dalam keterangannya, Minggu 929/8/2021).

Ia menambahkan bahwa hal ini merupakan bentuk komitmen Pemerintah Indonesia menindaklanjuti Lokakarya Regional ASEAN Peningkatan Peran dan Perlindungan Perempuan Angkatan Kerja untuk Mendukung Pemulihan Ekonomi di Masa Pandemi, yang dilaksanakan pada Kamis (26/8/2021) secara hibrida.

Ida mengatakan, sebagai salah satu kelompok rentan di masa pandemi, peningkatan kesadaran tentang peran dan pelindungan perempuan sangat penting untuk menjadi perhatian stakeholders ketenagakerjaan. Selain itu, kata dia, diperlukan langkah-langkah peningkatan peran dan pelindungan angkatan kerja perempuan dalam pemulihan ekonomi negara-negara ASEAN yang terdampak pandemi.

"Perlu adanya kerja sama antara negara anggota ASEAN dengan mitra sosial lainnya untuk meningkatkan peran pelindungan angkatan kerja perempuan, serta mewujudkan upaya konkrit ASEAN terhadap pencapaian target SDG terkait isu kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan," kata Menaker Ida.

Diketahui, berdasarkan laporan International Labour Organization (ILO), pekerja perempuan di kawasan Asia-Pasifik terdampak krisis secara tidak proporsional. Artinya, perempuan yang kehilangan pekerjaan lebih besar di daripada laki-laki.

ILO mencatat, 297 juta perempuan bekerja di sektor berisiko tinggi pada 2019 di Asia dan Pasifik. Angka tersebut setara dengan 43,3% pekerjaan perempuan (dibandingkan dengan 37,6% untuk semua pekerja).

"Berbagai alasan menyebabkan kerugian bagi pekerja perempuan sebab sebagian besar perempuan di kawasan Asia-Pasifik bekerja di sektor-sektor yang sangat terpengaruh oleh krisis," ujarnya.



Simak Video "Kemnaker Lanjutkan Trend Positif "Saya Sudah Divaksin""
[Gambas:Video 20detik]
(ega/dna)