Sri Mulyani Sebut Ekonomi RI Cuma Keok dari Tiga Negara, Mana Saja?

Anisa Indraini - detikFinance
Selasa, 31 Agu 2021 09:50 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut perekonomian Indonesia cukup baik di tengah pandemi COVID-19. Hal itu terlihat dari kontraksi ekonomi yang tidak sedalam negara lain.

Sri Mulyani mengatakan negara lain ada yang minus hingga double digit hampir 20% saat kuartal II-2020. Sedangkan Indonesia hanya minus 5,3%, yang disebut kalah dari tiga negara saja.

"Indonesia kuartal II tahun lalu minus 5,3%. Ini menunjukkan secara relativitas Indonesia bisa memposisikan bagaimana respons maupun dampak ekonomi dari pandemi ini. Ada negara-negara dari G20, relatif kita cukup baik. Mungkin yang lebih baik China, Vietnam dan Korea. Tiga negara itu," ujarnya dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Senin (30/8/2021).

Perekonomian Indonesia kembali menunjukkan perbaikan dengan pertumbuhan 7,1% di kuartal II-2021. Sedangkan Korea Selatan minus 2,5% di Kuartal II-2020 dan tumbuh 5,9% di kuartal II-2021.

Sedangkan China dan Vietnam tidak mengalami kontraksi, hanya saja perekonomiannya turun masing-masing 3,2% dan 0,4% di kuartal II-2020 dan tumbuh kembali menjadi 7,9% dan 5,9% di kuartal II-2021.

Tekanan pada perekonomian yang tidak terlalu dalam ini dinilai berhasil membawa Indonesia ke level seperti sebelum terjadi pandemi COVID-19 atau pre-covid level. Negara sekelas Amerika Serikat (AS), Thailand, Malaysia, Singapura dan Filipina, disebut belum ada yang berhasil mengembalikan Produk Domestik Bruto (PDB) riil mereka sama seperti pada kuartal II-2019.

"Indonesia dari sisi kontraksi dibandingkan negara-negara di dunia dan kawasan kita relatif mild dengan rebound 7,1%, kita sudah di level GDP real kita sudah melewati pre-COVID level," tuturnya.

"Semuanya tidak ada satu pun yang GDP-nya menembus pre-COVID level yaitu kuartal II-2019. Ini dikarenakan kontraksinya di 2020 yang dalam," tambahnya.

Sri Mulyani pun mengaku bersyukur dan berkomitmen akan terus mempertahankan momentum positif tersebut. "Ini sesuatu yang perlu kita syukuri karena memang ke depan tetap kita akan lihat drive by data, dan kita coba mendesain kebijakan berbasiskan apa yang datanya menggambarkan situasi yang kita hadapi," tandasnya.

(aid/zlf)