Ekspor Mesin Ditargetkan Naik 10%
Selasa, 04 Apr 2006 17:36 WIB
Jakarta - Departemen Perindustrian (Depperin) menargetkan ekspor mesin tahun ini naik 10-12 persen dari realisasi ekspor di tahun 2005 yakni US$ 1,75 miliar. Kenaikan ekspor tersebut dengan pertumbuhan industri mesin sebesar 4,42 persen.Ekspor permesinan sendiri, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) bulan Februari 2006 menempati porsi terbesar dengan nilai US$ 588,8 juta. Demikian diungkapkan oleh Dirjen Industri Logam Mesin Tekstil dan Aneka (ILMTA) Ansari Bukhari di Gedung Departemen Perindustrian, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (4/3/2006)."Produksi permesinann kita hanya bisa dikelas middle-low sementara untuk mesin canggih teknologikita kalah jauh dari Jerman, Jepang, Italia karena SDM yang tidak memadai. Sedangkan di kelas bawah bersaing dengan Taiwan dan Cina," papar Ansari.Saat ini, ungkap Ansari, industri mesin mengalami mengalami dualisme. Disatu sisi ingin mendorong pertumbuhan industri dengan impor mesin, di sisi lain industri permesinan juga perlu didorong."Komposisi impor kita masih 60 persen impor dan 40 persen mesin produksi dalam negeri," jelasnya.Ansari mengatakan, pada tahun 2009 utilisasi ditargetkan mencapai 80 persen. Sedangkan target ekspor 2009 ditargetkan mencapai US$ 2,26 miliar."Ini agak berat mengingat utilisasi pabrik yang selama ini dibawah 60 persen. Dengan memfokuskan pertumbuhan di mesin alat pertanian, pengolahan dan konstruksi," ungkapnya.Untuk mencapai hal itu, lanjut Ansari, bisa dilakukan dengan cara revisi izin impor mesin, ketentuan tarif dan penggunaan produksi dalam negeri untuk BUMN.Ansari menjelaskan, setiap tahun angka ekspor dan impor mesin menanjak. Tercatat ekspor tahun 2003 sebesar US$ 1,4 miliar, tahun 2004 US$ 1,62 miliar dan tahun 2005 US$ 1,75 miliar.Sedangkan untuk impor pada tahun 2003 US$ 3,8 miliar, tahun 2004 US$ 5,5 miliar dan tahun 2005 US$ 6,5 miliar.
(ir/)











































