Triwulan I-2006
Ekonomi RI Akan Tumbuh 4,58%
Rabu, 05 Apr 2006 18:17 WIB
Jakarta - Perekonomian Indonesia selama triwulan I-2006 diperkirakan tumbuh 4,58 persen, atau sedikit lebih tinggi dari perkiraan awal tahun sebesar 4,35 persen.Membaiknya pertumbuhan ini terutama didukung oleh terjaganya kestabilan ekonomi makro, seperti menguatnya nilai tukar, menurunnya tingkat inflasi, dan surplus neraca pembayaran. Demikian hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) seperti disampaikan Gubernur BI Burhanuddin Abdullah dalam konferensi pers di Gedung BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Rabu (5/4/2006).Untuk keseluruhan tahun 2006, BI tetap optimistis bahwa perekonomian nasional semakin menguat, terutama didorong oleh kondisi ekonomi global yang lebih kondusif, kinerja neraca pembayaran yang lebih baik.Disamping itu juga didukung oleh kemampuan stimulus fiskal yang lebih besar dan intensifnya upaya pemerintah memperbaiki iklim investasi. PDB 2006 diperkirakan tumbuh sedikit lebih tinggi sehingga mendekati batas atas kisaran proyeksi 5,0-5,7 persen.Sementara dari sisi permintaan, ekspansi yang melambat pada triwulan I-2006 bersumber dari rendahnya pertumbuhan permintaan domestik, sedangkan net ekspor masih cenderung meningkat. Beberapa faktor yang mempengaruhi perlambatan ekspansi permintaan domestik terutama terkait dengan belum membaiknya iklim investasi dan semakin melemahnya daya beli masyarakat sejak akhir tahun 2005. Permintaan domestik yang melambat tersebut menyebabkan lebih rendahnya permintaan impor. Namun, perlambatan konsumsi yang lebih dalam masih dapat dihindari karena peran konsumsi pemerintah yang meningkat cukup tinggi baik dalam bentuk peningkatan gaji PNS maupun menyaluran Bantuan Langsung Tunai (BLT). Kondisi permintaan domestik tersebut berdampak pada semakin terbatasnya peningkatan kapasitas perekonomian. Dari sisi penawaran, sektor ekonomi yang diperkirakan mengalami perlambatan cukup signifikan adalah sektor industri pengolahan, sektor perdagangan dan sektor transportasi dan komunikasi.Sementara dari sisi perbankan mulai menunjukkan tanda-tanda peningkatan kinerja. Jumlah kredit dan dana pihak ketiga (DPK) mengalami peningkatan meski belum sampai pada jumlah yang diharapkan. Namun demikian, BI mengingatkan beberapa risiko perlu dicermati seperti meningkatnya non-performing loans (NPLs), yaitu NPL gros meningkat dari 8,7% pada bulan Januari menjadi 9,3% pada bulan Februari. Sementara NPL netto meningkat dari 5,1% menjadi 5,7%. Namun demikian, Burhanuddin mengingkatkan bahwa meski terdapat optimisme yang lebih besar terhadap perbaikan kinerja ekonomi, berbagai risiko tetap harus diwaspadai. Pertama menyangkut tingginya harga minyak dan berlanjutnya kebijakan moneter ketat global. Kedua, permasalahan infrastuktur, khususnya prasarana transportasi di berbagai daerah perlu diantisipasi untuk mencegah kenaikan harga khususnya kelompok makanan. Ketiga, adanya berbagai kendala dalam penyaluran anggaran untuk belanja modal pemerintah dan implementasi kebijakan pemerintah dalam perbaikan iklim investasi.
(qom/)











































