Terkuak! Ini Biang Kerok Harga Jagung Mahal yang Dikeluhkan Peternak di Blitar

Siti Fatimah - detikFinance
Kamis, 09 Sep 2021 12:16 WIB
Menurut salah satu peternak ayam petelur di Blitar, Jawa Timur, ada jurus jitu menyiasati harga pakan yang kian naik-turun. Penasaran?
Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Paguyuban Peternak Rakyat Nusantara (PPRN) mengungkapkan, harga jagung pitilan di kalangan peternak ayam mengalami kenaikan jadi kian mahal. Hal itu menjadi salah satu alasan seorang peternak ayam di Blitar memasang poster saat kunjungan Presiden Joko Widodo (Jokowi) Selasa (7/9) lalu.

Ketua PPRN, Alvino Antonio mengatakan, peternak rakyat mandiri layer kesulitan untuk mendapatkan jagung untuk kebutuhan ayam petelur. Menurutnya, ada dugaan selain harganya yang tinggi, jagung pun sudah dikuasai oleh pabrik-pabrik pakan.

Padahal, kata dia, dengan menggunakan jagung sebagai pakan ayam, peternak dapat menekan anggaran produksi hingga 50%. Namun apa daya, tingkat kemampuan membeli jagung di peternak masih rendah karena adanya kenaikan harga tersebut.

"Susah dan mahalnya itu diduga karena sudah dimonopoli sama perusahaan-perusahaan besar. Pabrik-pabrik pakan perusahaan besar. Jadi jagung ke peternak itu nggak kebagian. Nah sementara peternak itu bisa menekan harga produksi biaya itu dari jagung 50% itu minimal," kata Alvino kepada detikcom, Kamis (9/9/2021).

Dia menyebutkan, harga normal jagung berkisar antara Rp 4.000 sampai Rp 4.500 namun kini naik menjadi Rp 6.500, artinya terdapat selisih antara Rp 2.000 sampai Rp 2.500. Peternak ayam bertelur pun mengalami kerugian Rp 5.000 sampai Rp 6.000 karena harga telur saat ini di bawah harga produksi.

"Sebenarnya kejadian ini sudah disampaikan (ke pemerintah) 3-4 tahun yang lalu karena kan kejadian jagung, beras, gula itu kan kejadian klasik dan terulang terus tapi kan pemerintah nggak pernah belajar. Jadi pemerintah itu sifatnya seperti pemadam kebakaran saja, selalu kalau ada ribut-ribut, kesusahan baru bertindak, jadi sudah diingatkan oleh asosiasi dan peternak," paparnya.

Alvino mengatakan, pemerintah selalu menyebutkan bahwa pangan surplus namun kenyataan yang terjadi sulit di dapat dan harganya melambung tinggi. Pihaknya berharap, pemerintah serius menyikapi permasalahan yang terjadi di tingkat peternak ataupun petani.

"Selalu pangan dibilang surplus-surplus tapi kan kenyataannya pembuktian terbalik. Surplus kok susah dan mahal. Jadi ya kita mau bagaimana lagi, ya susah juga kita. Harapannya pemerintah serius mensikapinya segala hal nggak cuman di jagung aja," pungkasnya.

Simak juga Video: Nggak Mau Digetok Harga? Jangan Nginep di Warung Puncak!

[Gambas:Video 20detik]



(zlf/zlf)