Anggaran Kemenhan Rp 133 T Disorot DPR, Ini Catatannya

Aulia Damayanti - detikFinance
Kamis, 09 Sep 2021 19:29 WIB
KRI Kujang-642 menembakan rudal C-705 ke target sasaran di perairan Natuna, Kepulauan Riau, Kamis (8/4/2021). TNI Angkatan Laut (AL) melaksanakan latihan operasi laut gabungan untuk menguji kesiapsiagaan peralatan tempur atau Alutsista di lapangan. ANTARA FOTO/Teguh Prihatna/Lmo/aww.
Foto: ANTARA FOTO/Teguh prihatna

Selain itu, Dede menambahkan, perkembangan teknologi yang sangat pesat, juga membawa teknologi pertahanan dan pertempuran ke dunia baru dimana operasi militer bisa diselesaikan dengan cepat, tepat, dan efisien.

Cepat karena tidak membutuhkan waktu lama untuk menuju medan tempur, tepat karena bisa menjangkau daerah terpencil serta target sasaran yang lebih akurat sehingga dapat mencegah timbulnya korban jiwa (bystander) yang berpotensi menimbulkan masalah sosial dan HAM, efisien karena tidak membutuhakan manpower yang besar sehingga mengurangi cost dan yang paling penting mengurangi potensi pasukan yang gugur dalam medan perang.

"Sebagai contoh penggunaan teknologi pesawat tanpa awak atau drone militer pada operasi pemetaan, pengawasan, dan assassination. Perang saat ini, tidak hanya mengandalkan alutsista besar-besaran tapi perang teknologi ke depan," tuturnya.

Pengadaan alutsista wajib melalui perencanaan yang matang baik dari segi jangka waktu penggunaan, supaya jangan peralatan yang usang sebelum digunakan seperti peluru yang expired yang bahkan untuk memusnahkannya membutuhkan biaya yang tidak murah. Yaitu dari segi kebutuhan harus koheren dengan potensi ancaman dan proyeksi kondisi medan pertempuran, segi efisiensi, SDM dan cost, hingga segi diplomasi dan hubungan internasional.

"Belanja besar-besaran alutsista dengan tujuan menimbulkan deterrence effect di wilayah kawasan jangan sampai hasilnya kontraproduktif dan malah menimbulkan persaingan untuk saling memperkuat kekuatan militer yang berakibat potensi untuk saling mengancam dan sensitif terhadap isu-isu yang muncul. Salah satu opsi terbaik dalam diplomasi kemiliteran dengan prinsip "satu musuh terlalu banyak dan 1.000 teman terlalu sedikit" harus menjadi
pertimbangan utama dalam berhubungan dengan negara-negara kawasan dan sahabat," pungkasnya.

Bersambung ke halaman selanjutnya.