Bikin Hati Teriris! Guru Honorer Puluhan Tahun Mengabdi, Gaji 300 Ribu/Bulan

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Sabtu, 18 Sep 2021 06:00 WIB
Puluhan ribu guru honorer menggelar demo dan aksi damai di Jl Asia Afrika Jakarta, Selasa (15/9/2015) usai menyampaikan aspirasinya di depan Gedung DPR RI. Beginilah wajah lelah perjuangan para pahlawan tanpa tanda jasa honorer ini dari berbagai daerah yang menagih janji Presiden Jokowi untuk mengangkatnya menjadi PNS. Rachman Haryanto/detikcom.
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Mendengar kisah nasib guru honorer memang bikin hati pilu. Sudah mengabdi selama puluhan tahun, masih ada yang menerima gaji Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu per bulan.

Demi mengubah nasib, para guru honorer ini harus menjadi pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK). Namun hal ini tak semudah yang dipikirkan.

"Mereka digaji Rp 200 ribu-Rp 300 ribu gimana mau bicara kompeten. Lalu mereka yang mengabdi puluhan tahun ini untuk bisa dikatakan kompeten harus lulus dengan passing grade sekian, sungguh tidak masuk akal," kata Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Unifah Rasidi kepada detikcom, Jumat (17/9/2021).

Sayang, peluang para pahlawan tanpa tanda jasa ini untuk mengubah nasibnya relatif kecil. Unifah mengaku, dirinya mendapat banyak pengaduan guru honorer yang tak lolos tes PPPK.

Dia mengatakan, seleksi PPPK yang diterapkan tidak berpihak pada mereka yang telah lama mengabdi. Sebab, semua guru honorer diberlakukan sama.

"Tapi kebijakan itu sungguh tidak berpihak kepada honorer, beda sekali dengan kebijakan dua tahun sebelumnya. Dua tahun sebelumnya adalah waktu K2, adalah rekrutmen berdasarkan, dipisah honorer itu diutamakan 35 tahun ke atas PPPK, dites sesama honorer, dan mereka yang daerah terpencil," ujarnya.

"Kalau sekarang disamakan semuanya, dengan alasan kualitas ditentukan tes. Sementara kita sendiri, sudah menolak yang namanya tes ujian nasional untuk menentukan kualitas. Nah sekarang balik lagi," tambahnya.

Menurut Unifah hal itu tidak manusiawi. Seharusnya dibedakan guru honorer berdasarkan usia dan masa kerja.

"Jadi bagi yang tua, yang sudah puluhan tahun, diperlakukan sama, sungguh tidak manusiawi, sungguh tidak mempunyai hati. Bahwa daerah-daerah yang jauh, komitmen guru untuk mendidik anaknya jauh lebih penting daripada semua hal yang gimik-gimik tes ini. Dan harusnya dibedakan berdasarkan usia dan masa kerja," paparnya.

Berita selanjutnya tentang viral surat pengawas tes PPPK untuk Mendikbudristek Nadiem Makarim. Langsung klik halaman berikutnya.