Kementan Teken MoU dengan FAO soal Pertanian-Ketahanan Pangan Dunia

Yudistira Perdana Imandiar - detikFinance
Minggu, 19 Sep 2021 17:44 WIB
Kementan teken MoU dengan FAO
Foto: Kementan
Jakarta -

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) menandatangani nota kesepahaman (MoU) penguatan Kerja Sama Selatan-Selatan dan Triangular (KSST) dengan Food and Agriculture Organisation (FAO). Hal itu dilakukan di sela-sela rangkaian pertemuan Menteri Pertanian negara G-20.

"Sebagai negara agraris dan salah satu negara pengekspor terbesar produk pertanian, Indonesia terus berupaya meningkatkan berbagai perannya di tingkat global. Peran aktif Indonesia di kancah internasional diperlukan sebagai sarana diplomasi yang secara paralel mendukung upaya peningkatan sektor pertanian dalam negeri," terang Syahrul dalam keterangan tertulis, Minggu (19/9/2021).

Penguatan KSST, jelas Syahrul, menjadi salah satu strategi dalam meningkatkan kerja sama pembangunan internasional seperti tercantum dalam RPJMN 2020-2024.

Ia mengatakan kesepakatan ini merupakan wujud komitmen Indonesia dari sektor pertanian untuk turut membangun ketahanan pangan global.

"Terlebih lagi Indonesia yang merupakan bagian dari G20. Melalui skema ini, diharapkan mampu menciptakan keuntungan bersama dan berkontribusi positif dalam mendukung tujuan bersama negara-negara G20 untuk menciptakan kesejahteraan secara global," terang Syahrul.

"Kami siap untuk memposisikan diri sebagai innovative leader untuk dapat berbagi best practices dengan multi-stakeholder, khususnya di negara-negara mitra yang kurang berkembang," ujar Syahrul.

Syahrul menguraikan MoU yang dijalin Kementerian Pertanian (Kementan) dengan FAO meliputi berbagai aspek yang diharapkan mampu menyelesaikan permasalahan global yang ada pada bidang pertanian dan ketahanan pangan, serta untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.

Dalam pelaksanaan kerja sama tersebut, ulas Syahrul, Indonesia melalui Kementerian Pertanian dalam implementasi kerja sama ini nantinya akan berperan dalam bentuk dukungan teknis, pengembangan kapasitas kelembagaan; transfer pengetahuan, pengalaman, dan teknologi inovatif, pertukaran pembelajaran (ahli teknis, petani, pembuat kebijakan), serta platform berbagi informasi/pengetahuan/pengalaman dan kolaborasi. Ia mengatakan Kementan sebelumnya telah melaksanakan dan berperan dalam lebih dari 100 proyek kerja sama yang manfaatnya dirasakan oleh lebih dari 50 negara di Asia, Afrika, dan Pasifik, termasuk Palestina.

Adapun beberapa balai di Kementerian Pertanian yang menjadi Center of Excellence dalam pelaksanaan KSST, di antaranya BBIB Singosari (inseminasi buatan) dan Balai Pelatihan Pertanian (Lembang, Batu, Ketindan). Syahrul menuturkan Kementan merupakan perintis dalam pembangunan Pusat Pelatihan Pertanian, Farmer's Agricultural and Rural Training Center (FARTC) di Tanzania dan Agricultural Rural Farmers Training Center (ARFTC) di Gambia.

Sebagai informasi, KSST merupakan kerja sama antar negara-negara berkembang sebagai sarana untuk saling berbagi pengalaman dan mencari solusi atas tantangan bersama di bidang pembangunan. Konfigurasi skema KSST terdiri dari beberapa bagian yakni negara selatan (sebutan lain untuk negara sedang berkembang) penerima bantuan, negara selatan pemberi bantuan (donor), serta negara maju dan institusi multilateral sebagai pendonor dan pendukung. Sejak tahun 1980-an, Indonesia mulai beralih menjadi negara donor dan terus berkomitmen untuk memperkuat KSST.



Simak Video "Gerak Kementan Tingkatkan Ekspor Tanaman Hias"
[Gambas:Video 20detik]
(fhs/hns)