Soal Sepeda 'Sultan' Brompton yang Kini Harganya Berdarah-darah

Tim detikcom - detikFinance
Senin, 20 Sep 2021 10:12 WIB
CHICHESTER, ENGLAND - JULY 28:  A bike wears the name Brompton at the Brompton World Championship folding bike race, which is part of the Orbital cycling festival at Goodwood Motor Circuit on July 28, 2013 in Chichester, England. The race starts with a Le-Mans style sprint to the riders bike, which is then assembled and followed by a 15.2km ride. A strict dress code of jacket and tie applies, with an award going to the most stylishly dressed.  (Photo by Matthew Lloyd/Getty Images)
Soal Sepeda 'Sultan' Brompton yang Kini Harganya Berdarah-darah
Jakarta -

Sepeda 'sultan' merek Brompton lagi ramai dibahas karena harganya yang mulai pudar. Disebut sebagai sepeda 'sultan' karena Brompton punya harga yang tinggi, sampai puluhan bahkan ratusan juta. Hal ini jelas menandakan segmentasi sepeda Brompton adalah orang-orang berduit.

Balik lagi soal isu yang sedang ramai dibahas, sepeda Brompton ini harganya mulai miring. Gara-garanya, tren sepedaan di Indonesia mulai pudar seiring kasus COVID-19 yang menurun.

Aktivitas goes yang ngetren di awal pandemi, yakni pada 2020 lalu sudah tak lagi banyak dilakukan orang-orang. Hukum supply and demand pun berlaku dan membuat harga Brompton berdarah-darah.

Mumpung masih hangat soal Brompton, apakah detikers tahu dari mana asal-usul sepeda 'sultan' ini? Penasaran klik tautan di bawah ini.

Sepeda Brompton ini kadang bikin beberapa kalangan terheran-heran. Kenapa sih sepeda 'doang' harganya bisa tembus ratusan juta? apa yang bikin mahal? apa bedanya sama sepeda lain?

Ada yang bilang harga sepeda Brompton ini harganya mahal karena dirancang lebih elegan dibanding para pesaingnya. Masa sih? kalau penasaran bisa simak tautan ini.

(fdl/fdl)