Sawit Jadi 'Pahlawan' Neraca Dagang, Bagaimana Prospek Bisnisnya?

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Kamis, 23 Sep 2021 09:30 WIB
Pekerja membongkar muat Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit ke atas truk di Mamuju Tengah , Sulawesi Barat, Rabu (11/08/2021). Harga TBS kelapa sawit tingkat petani sejak sebulan terakhir mengalami kenaikan harga dari Rp1.970 per kilogram naik menjadi Rp2.180  per kilogram disebabkan meningkatnya permintaan pasar sementara ketersediaan TBS kelapa sawit berkurang. ANTARA FOTO/ Akbar Tado/wsj.
Foto: ANTARA FOTO/AKBAR TADO
Jakarta -

Sawit atau CPO menjadi salah satu komoditas yang berkontribusi besar terhadap capaian neraca dagang Indonesia di Agustus 2021 yang surplus US$ 4,74 miliar. Capaian itu merupakan surplus neraca dagang tertinggi sejak 2006.

Komoditas sawit belakangan ini memang memiliki prospek cerah. Para perusahaan yang bergerak dalam komoditas ini juga tengah dalam performa positif.

PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) misalnya, hingga Agustus 2021 merealisasikan belanja modal (capital expenditure/capex) senilai Rp 302,50 miliar atau sebesar 55% dari total anggaran belanja modal perseroan sebesar Rp550 miliar.

Corporate Secretary SSMS, Swasti Kartikaningtyas, mengatakan belanja modal SSMS di semester I/2021 itu digunakan untuk membiayai pembangunan, pemeliharaan infrastruktur perkebunan, dan membeli alat-alat berat yang menunjang efektivitas operasional perkebunan untuk menghasilkan tandan buah segar (TBS) berkualitas dan kuantitas yang baik, agar dapat memaksimalkan pasokan TBS pada kapasitas pabrik kelapa sawit (PKS).

"Selain itu, capex digunakan untuk membiayai perawatan jalan perkebunan agar kondisi jalan menuju refinery perseroan semakin lancar sehingga mempercepat distribusi crude palm oil (CPO) yang terjaga kualitasnya," ujar Swasti dalam keterangan tertulis, Kamis (23/9/2021).

Perseroan pada semester II tahun ini berencana mengalokasikan capex untuk menyokong pertumbuhan operasional dan pengembangan bisnis. Swasti mengatakan pengembangan bisnis ini seiring dengan rencana SSMS untuk menjajaki ekspansi bisnis di semseter II/2021, antara lain rencana penambahan luas lahan perkebunan kelapa sawit, khususnya di Kalimantan Tengah.

"Saat ini total luas kebun inti perseroan mencapai 68.880 hektare. Kami tetap membuka peluang apabila ada momentum untuk pengembangan bisnis dan profit. Mengingat adanya moratorium lahan, SSMS terbuka dalam penambahan lahan perkebunan dan ekspansi perkebunan sawit asalkan sejalan dengan prinsip-prinsip keberlanjutan yang sudah diterapkan oleh SSMS," tutur Swasti.

Untuk produksi CPO, Swastika menjabarkan SSMS memproyeksikan produksi CPO pada kuartal II/2021 meningkat sekitar 7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. "SSMS terus mengupayakan peningkatan produksi CPO dapat melebihi dari tahun sebelumnya, sejak awal kami menargetkan meningkat sekitar 10-15%, atau sekitar 515.000 metrik ton (MT) dari 8 PKS milik perseroan. Sekedar mengingatkan, realisasi produksi CPO SSMS di tahun lalu sebesar 448.185 MT," ucap Swasti.

Dengan momen harga CPO yang cukup tinggi, SSMS terus mengupayakan penjualan CPO dapat melampaui realisasi penjualan CPO di tahun lalu. Permintaan dan penjualan CPO SSMS masih sangat baik. Ini tecermin dari penjualan CPO pada Juni 2021 yang diperkirakan meningkat sekitar 31% dibandingkan periode yang sama tahun 2020. Selain peningkatan harga CPO, sentimen positifnya adalah meningkatnya harga komoditi internasional, seperti meningkatnya harga palm kernel (PK) dan palm kernel oil (PKO).

SSMS merealisasikan penjualan PK dan PKO pada Juni 2021 juga cukup tinggi, tetapi sementara untuk nilai pasti penjualan dan laba bersih kuartal II tahun ini akan segera dipublikasikan oleh perseroan. "Karena, saat ini kami sedang dalam proses audit (limited review) yang dilakukan oleh auditor eksternal, yakni Ernst & Young (E&Y). Kami sampaikan hasilnya apabila sudah bisa dipublikasikan," sebut Swasti.

(das/das)