Cerita Warga Lampung Tengah Terlilit Rentenir Sebelum Kenal Perbankan

Yudistira Perdana Imandiar - detikFinance
Jumat, 24 Sep 2021 17:17 WIB
Ilustrasi arisan
Foto: dok. Agung Pambudhy/detikcom
Lampung Tengah -

Sistem pinjaman uang praktis ala rentenir sempat menjerat Subur, warga Desa Terbanggi Subing, Kecamatan Gunung Sugih, Lampung Tengah. Muslihat lintah darat membuat Subur harus kehilangan asetnya.

Subur bercerita, di awal sampai pertengahan tahun 2000-an praktik rentenir merajalela di Lampung Tengah. Warga seperti dirinya yang butuh uang cepat termakan dengan iming-iming pinjaman uang mudah tanpa agunan dari para rentenir.

Kala itu, kata wanita pengusaha tempe ini, banyak orang termasuk dirinya masih anti dengan layanan kredit bank. Sebab, ada anggapan pinjaman uang di bank rumit, butuh jaminan, dan bisa bermasalah dengan hukum.

"Takut aja lah (kredit di bank) bayar bulanannya nggak bisa. (Kalau) rentenir kan setiap hari (bayarnya). Nggak pakai jaminan, gampang," kata Subur kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Subur tak ingat betul berapa jumlah utangnya kepada rentenir, karena tidak ada hitungan yang jelas. Namun, seingatnya lantaran pinjaman yang berkisar tak sampai Rp 10 juta, ia harus kehilangan aset tanah seluas 58 meter persegi.

"Tanahku ini tadinya banyak, (karena) rentenir itu habis. Pinjaman itu buat kebutuhan macam-macam. Untuk beli kedelai, untuk modal. Biar anakku juga bisa tetap sekolah," tutur Subur.

Hal senada juga diungkapkan Nanang Fachrurozy, warga Kecamatan Bandar Jaya, Lampung Tengah. Meski tak jadi korban langsung dari rentenir, ia menjadi saksi para tetangga dan sejawat kehilangan aset karena terlilit hutang rentenir.

Nanang mengulas, masyarakat rela menjaminkan harta tanah, kendaraan, dan lainnya. Bahkan, para pekerja pun menjadikan kartu ATM sebagai jaminan. Para rentenir akan mengambil seluruh gaji mereka sampai memenuhi nilai pinjaman berikut bunganya.

"Banyak warga yang asetnya juga keambil, terutama yang nggak kerja di perusahaan. Karena sistemnya kalau nggak kerja, kayak petani, ya jaminannya aset seperti surat, motor kendaraan, dan lain-lain. Masyarakat di sini dulu segitu takutnya sama bank. karena sistem pembukaan rekening kan nggak sesimpel sekarang. saya bikin rekening BRI juga tahun 1999 kalau nggak salah, belum ada ATM juga waktu itu. Ibaratnya, sekkarang sudah bisa rajin menabung," papar Nanang.

Warga lainnya, Nurjanah juga sempat tak percaya dengan layanan bank. Jangankan mengambil kredit di bank, urusan menabung saja ia lebih memilih menyimpan di celengan dibandingkan membuka rekening bank karena dibayangi stigma soal keruwetan proses bank.

"Ya dulu pikirnya ribet ke bank. Takut juga kalau ada apa-apa. Mending simpan uang di rumah di celengan. Tapi ternyata proses ke bank itu mudah," ungkapnya.

Nestapa terjerat rentenir akhirnya membuat warga seperti Subur membuka diri pada layanan bank. Ia mengisahkan kali pertama mengenal layanan bank dari seorang petugas Bank BRI yang menemuinya kala berdagang di pasar sekitar tahun 2015. Petugas itu menjelaskan secara rinci mekanisme kredit usaha rakyat (KUR) di bank yang menurut Subur tak menakutkan seperti yang dipikirkan sebelumnya,.

"Di awal saya pinjam ke bank itu Rp 10 juta dan nggak ada masalah. Ternyata enak (kredit) di bank, lebih murah makanya saya ambil di BRI," urai Subur.

Mengenai fenomena rentenir ini, Kepala BRI Unit Gotong Royong Redi Anto mengatakan pihaknya berupaya meningkatkan literasi masyarakat agar terhindar dari jerat hutang. Apalagi, kata Redi, setelah adanya Holding Ultra Mikro yang membuat masyarakat dapat memanfaatkan permodalan dari BRI, Pegadaian, dan PNM secara mudah dan aman.

Ia menyampaikan untuk mengedukasi masyarakat, mantri BRI rutin mengedukasi warga pedesaan dan memperkenalkan layanan seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR), yang prosesnya mudah dengan bunga ringan. Masyarakat dapat memanfaatkan KUR untuk pengembangan usaha, tanpa dibayangi risiko kehilangan aset atau hutang semakin menggunung tanpa rincian yang jelas.

"Beberapa kali saya menemukan mereka takut dan lebih baik memilih ke rentenir daripada pinjam ke perbankan. karena asumsi mereka dengan rentenir tanpa agunan apapun langsung turun uang, walaupun mereka paham bunganya sangat tinggi," kata Redi.

"Di sinilah kami bilang kenapa nggak ke kami, mereka bilang kalau pinjaman ke BRI harus ada agunan? Nggak juga, pinjaman di BRI ada yang tidak menggunakan agunan seperti KUR, tidak dipaksakan untuk memiliki agunan asalkan memiliki usaha. informasi seperti itu yang sering terputus ke masyarakat," imbuhnya.

detikcom bersama BRI mengadakan program Sinergi Ultra Mikro di Bandar Lampung dan Semarang untuk memantau upaya peningkatan inklusi finansial masyarakat melalui sinergi BRI, Pegadaian, dan PNM dalam Holding Ultra Mikro. Holding Ultra Mikro berupaya mendukung pertumbuhan ekonomi yang kuat dan berkelanjutan untuk peningkatan UMKM di Tanah Air.


Untuk informasi lebih lengkap, ikuti beritanya di https://sinergiultramikro.detik.com/.

(prf/hns)